Airlangga: Minyak Nabati Harus Tersedia dan Terjangkau di Tengah Krisis

Ilustrasi minyak nabati. (Foto: Pixabay)

Editor: M Kautsar - Selasa, 12 Juli 2022 | 10:45 WIB

Sariagri - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa ketersediaan, aksesibilitas dan keterjangkauan komoditas pertanian, termasuk minyak nabati harus dipastikan di tengah krisis ekonomi yang melanda dunia.

"Di tengah krisis ini, memastikan ketersediaan, aksesibilitas, dan keterjangkauan komoditas pertanian di pasar global, termasuk minyak nabati, menjadi salah satu fokus utama kami," kata Airlangga, Selasa (12/7/2022).

Menurut Airlangga, bahkan sebelum adanya krisis global, minyak nabati telah lama menjadi sumber mata pendapatan bagi petani skala kecil dan menjadi roda pembangunan ekonomi di banyak negara berkembang. Diperkirakan kuran pasar global minyak nabati akan meningkat dari 199,1 juta metrik ton pada tahun 2020 menjadi 258,4 juta metrik ton pada tahun 2026.

Oleh sebab itu, lanjut Airlangga, memastikan kesinambungan pasokan minyak nabati yang mencukupi ke pasar global bertujuan untuk mencegah volatilitas harga lebih lanjut dan guncangan terhadap ekonomi global.

"Dalam hal ini, kami terus percaya bahwa upaya bersama untuk memastikan keberlanjutan di pasar minyak nabati global harus dilakukan secara holistik dan nondiskriminatif," ungkap Airlangga.

Dia berujar, sebagai salah satu produsen dan pengekspor minyak nabati utama dunia meliputi minyak sawit dan kelapa, maka Indonesia terus menekankan pentingnya keberlanjutan di seluruh lini industri minyak nabati.

"Keberlanjutan tersebut dilakukan melalui pemanfaatan smart farming pada perkebunan kelapa maupun dukungan replanting bagi petani sawit," ujar Airlangga.

Di samping itu, percepatan transisi energi bersih melalui kebijakan biodiesel dilakukan RI untuk mencapai net zero emission.

Menurut Airlangga, diperkirakan penggunaan B30 berpotensi menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 24,6 juta ton karbon dioksida.

"Hal ini juga akan memperkuat tujuan Indonesia untuk mencapai target ketahanan energi dan bauran energi sebesar 23 persen pada tahun 2025," sebut Airlangga.

Lebih lanjut, Airlangga menuturkan bahwa Indonesia juga terus mempromosikan pentingnya pertanian dan sistem pangan berkelanjutan di berbagai forum, termasuk pada Presidensi G20 dan kerjasama Inggris melalui co-chairmanship dari dialog FACT (Forest, Agriculture, and Commodities Trade).

Baca Juga: Airlangga: Minyak Nabati Harus Tersedia dan Terjangkau di Tengah Krisis
Teten Tegaskan Pabrik Minyak Makan Merah Hanya Boleh Dibuat Koperasi



Airlangga menambahkan, Indonesia juga berkomitmen untuk mendorong dan mensinergikan kerja sama untuk memastikan minyak nabati berkelanjutan di berbagai organisasi internasional terkait seperti Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) dan International Coconut Community (ICC).

"Mari kita melipatgandakan upaya kita untuk mencapai SDGs, dan menetapkan jalan kita menuju komunitas global yang lebih tangguh, termasuk melalui promosi dan pengembangan minyak nabati yang berkelanjutan," imbuh Airlangga.

Video Terkait