Jagung Turun ke Level Terendah 8 Bulan, Efek Kekhawatiran Pasokan Mereda

Ilustrasi - Hasil pertanian jagung.(Pixabay)

Editor: Yoyok - Jumat, 22 Juli 2022 | 15:40 WIB

Sariagri - Harga jagung berjangka Chicago merosot pada perdagangan Jumat (22/7) siang dengan jatuh ke level terendah dalam hampir delapan bulan karena perkiraan cuaca Amerika Serikat (AS) yang menguntungkan meredakan kekhawatiran pasokan global.

Harg gandum juga tersungkur hampir 2 persen karena ekspektasi pasokan yang lebih tinggi dari wilayah Laut Hitam di tengah pemberitaan Rusia dan Ukraina akan menandatangani kesepakatan untuk membuka pelabuhan bagi pengiriman komoditas biji-bijian.

"Harga jagung melorot karena prospek cuaca Amerika membaik," kata trader biji-bijian yang berbasis di Singapura. 

"Rusia akan mengizinkan ekspor biji-bijian dari Ukraina yang merupakan kabar baik bagi pembeli, tetapi sebagian besar importir skeptis dan tidak tertarik untuk menandatangani kesepakatan untuk membeli gandum Ukraina sekarang."

Reuters melaporkan harga kontrak jagung yang paling aktif di Chicago Board of Trade (CBOT) menyusut 0,96 persen menjadi 568 dolar AS per bushel atau gantang pada pukul 14.00 WIB, setelah terperosok ke level terendah sejak 30 November di 563,50 dolar AS per bushel. Sejauh pekan ini, harga jagung anjlok 6 persen, jatuh untuk minggu kedua berturut-turut.

Harga gandum tergelincir 1,71 persen menjadi 792,50 dolar AS per bushel dan kedelai kehilangan 0,12 persen menjadi 1.300 dolar AS per bushel.

Pasar jagung kehilangan pijakan karena ekspektasi hujan di kawasan Midwest Amerika di mana jagung tahap penyerbukan, fase reproduksi utamanya.

Namun, International Grains Council, Kamis, memangkas perkiraan untuk produksi jagung global 2022/23, sebagian besar didorong oleh tekanan kekeringan di Uni Eropa.

Dalam laporan  bulanannya, badan antar-pemerintah itu mengurangi prospek panen jagung dunia periode 2022/23 sebesar 1 juta ton menjadi 1,189 miliar ton, jauh di bawah 1,220 miliar ton pada musim sebelumnya.

Pasar gandum menghadapi tekanan karena Rusia dan Ukraina akan membuat kesepakatan untuk meningkatkan ekspor.

Menurut Turki, Rusia dan Ukraina akan menandatangani kesepakatan, Jumat, untuk membuka kembali pelabuhan Laut Hitam Ukraina bagi ekspor biji-bijian, sebuah isyarat harapan bahwa krisis pangan internasional yang disebabkan invasi Rusia bakal mereda.

Ukraina dan Rusia, keduanya di antara eksportir makanan terbesar di dunia, tidak segera mengkonfirmasi pengumuman kantor kepresidenan Turki itu. Namun dalam sebuah pidato, larut malam, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengisyaratkan bahwa pelabuhan Laut Hitam negaranya dapat segera dibuka blokirnya.

Ekspor gandum Amerika melesat sejak perang Rusia-Ukraina membatasi pengiriman komoditas tersebut awal tahun ini.

Eksportir gandum Amerika tahun lalu mencatat kinerja terburuk kedua mereka dalam setengah abad, dengan pangsa pasar global berada di titik terendah sepanjang masa, karena penawaran gandum menghadapi saingan ketat dan lebih murah, ujar Karen Braun, analis  Reuters. 

Baca Juga: Jagung Turun ke Level Terendah 8 Bulan, Efek Kekhawatiran Pasokan Mereda
Harga Jagung dan Kedelai Merosot, Imbas Hujan Turun di Sentra Pertanian AS

Tetapi harga ekspor AS turun tajam dalam dua bulan terakhir, menarik perhatian pembeli global dan meningkatkan penjualan mingguan, yang mencapai level tertinggi sembilan tahun awal bulan ini, Braun menambahkan.

Para trader mengatakan Mesir diyakini membeli tambahan 120.000 ton gandum Rusia dan Prancis, Kamis, setelah memesan 640.000 ton sehari sebelumnya.

Video Terkait