Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor Sektor Pertanian Indonesia Naik

Ilustrasi ekspor. (Foto Pixabay)

Editor: M Kautsar - Rabu, 17 Agustus 2022 | 17:15 WIB

Sariagri - Upaya menggerakkan ekonomi nasional melalui sektor perdagangan terus mengalami kemajuan berarti. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menyampaikan surplus neraca perdagangan Indonesia kembali terjadi pada Juli 2022 dengan nilai sebesar USD 4,23 miliar. Surplus ini melanjutkan tren surplus yang dialami sejak Mei 2020. Geliat ekonomi nasional semakin positif.

“Surplus perdagangan bulan Juli 2022 sebesar USD 4,23 miliar ini disumbang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 7,31 miliar, sedangkan neraca perdagangan migas defisit USD 3,08 miliar. Surplus perdagangan di bulan Juli 2022 melanjutkan tren surplus yang dialami sejak Mei 2020 atau tepatnya selama 26 bulan terakhir,” ungkap Zulkifli Hasan.

Zulkifli Hasan juga menyampaikan, surplus neraca perdagangan secara kumulatif selama periode Januari–Juli 2022 mencapai USD 29,17 miliar. Surplus ini ditopang oleh surplus sektor nonmigas USD 43,93 miliar, sementara defisit sektor migas sebesar USD 14,76 miliar.

Kinerja ekspor Indonesia pada Juli 2022 mencapai USD 25,57 miliar, atau turun 2,20 persen dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya (Month on Month/MoM). Secara kumulatif, ekspor selama periode Januari—Juli 2022 mencapai USD 166,70 miliar, atau naik 36,36 persen dibanding periode yang sama tahun 2021. Kinerja ekspor yang menurun di bulan Juli 2022 dipicu oleh turunnya ekspor sektor migas sebesar 11,24 persen (MoM) dan industri pengolahan yang turun sebesar 4,45 persen (MoM).

Namun demikian, ekspor sektor pertanian masih menunjukkan kenaikan sebesar 4,27 persen (MoM), begitu pula dengan sektor pertambangan yang meningkat sebesar 6,61 persen (MoM). Zulkifli Hasan menyampaikan, beberapa produk nonmigas yang mengalami peningkatan signifikan di bulan Juli 2022 yaitu pulp dari kayu (HS 47) dengan peningkatan sebesar 48,54 persen (MoM); tembakau dan rokok (HS 24) sebesar 14,48 persen (MoM); bahan kimia anorganik (HS 28) sebesar 9,87 persen (MoM); tembaga dan produknya (HS 74) sebesar 8,34 persen (MoM); kopi, teh, dan rempah (HS 09) sebesar 7,40 persen (MoM); serta lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 5,31 persen (MoM).

“Khusus untuk kenaikan ekspor produk lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar 5,31 persen atau senilai USD 3,56 miliar, hal ini merupakan dampak dari sejumlah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah," imbuh Zulkifli Hasan.

Zulkifli Hasan menyampaikan, ekspor nonmigas Indonesia pada Juli 2022 masih menunjukkan penguatan pada sebagian besar negara mitra dagang utama. Pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi terjadi ke Polandia yang tumbuh mencapai 106,68 persen MoM, diikuti Spanyol (59,49 persen), Hongkong (25,95 persen), Taiwan (19,51 persen), dan Uni Emirat Arab (15,36 persen). Jika ditinjau menurut kawasan, kenaikan terbesar terjadi pada ekspor ke Afrika Tengah yang tumbuh 106,05 persen, diikuti dengan Karibia (73,24 persen) dan Asia Tengah (55,36 persen).

“Kenaikan ekspor nonmigas Indonesia ke sejumlah kawasan pada Juli 2022 merupakan indikasi positif dampak kebijakan perdagangan internasional Indonesia pada awal semester II 2022 ini,” tegas Zulkifli Hasan. 

Video Terkait