BBM Subsidi Naik, Harga Barang Diprediksi Meroket 15 Persen

Sejumlah anggota Tim Panic Buying Polres Sukoharjo memantau persediaan dan harga pangan di toko kelontong di Sukoharjo, Jawa Tengah (SariAgri/Aji Dewanto)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 30 Agustus 2022 | 12:45 WIB

Sariagri - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi bakal memicu meroketnya harga produk akhir.

Pemerintah disinyalir bakal menaikkan harga BBM subsidi, karena kuota hingga akhir tahun hanya tersisa 6,2 juta KL dari kuota yang ditetapkan sebesar 23 juta KL sampai akhir tahun. Belum lagi APBN bisa 'jebol' jika terus memberikan subsidi ke sektor energi ini.

"Kenaikan harga solar akan meningkatkan biaya logistik dan kenaikan harga produk dengan kenaikan sekitar 10-15%," ujar Agus dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo Ke-32, Selasa (30/8/2022).

Agus pun secara terbuka menyebut pemerintah sedang berancang-ancang dalam menyesuaikan harga BBM. Sebab, harga minyak dunia memang sudah tinggi, mencapai US$ 100/barel.

"Kita memahami harga energi terus mengalami kenaikan, pemerintah saat ini tengah godok rencana penyesuaian harga BBM," jelas Agus.

Namun, Agus tidak menyebut detil maupun memberi kisi-kisi berapa besar kenaikan harga BBM nantinya. Di sisi lain, Agus menambahkan, kenaikan harga BBM tidak terlalu berpengaruh ke sektor industri.

"Berdasarkan data industri besar sedang, pengeluaran untuk bahan bakar dan pelumas di 2019 sebesar Rp 58,7 triliun, dan berperan 1,3% terhadap total biaya produksi. Jika menggunakan angka 2019, maka 2021 pengeluaran bahan bakar mencapai Rp60 triliun atau 1,4%," sebut Agus.

"Dengan angka tersebut secara umum kenaikan Pertalite tidak terlalu berdampak signifikan ke biaya produksi industri, tapi berdampak sedikit pada karyawan," pungkas Agus.

Video Terkait



Baca Juga: BBM Subsidi Naik, Harga Barang Diprediksi Meroket 15 Persen
Dukung IKM Naik Kelas, Kemenperin Fasilitasi Dapur Produksi Bersih