Diembargo AS, Negara Ini Mencoba Bangkit dengan Perkuat Ekspor Cerutu

Ilustrasi cerutu. (Pixabay/jacqueline macou)

Editor: Dera - Selasa, 20 September 2022 | 17:15 WIB

Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, mengatakan bahwa dalam 14 bulan pertama pemerintahan Presiden AS Joe Biden, embargo telah menyebabkan kerugian ekonomi Kuba sekitar 6,3 miliar USD atau sekitar Rp94,6 triliun.

Pertama kali diberlakukan pada tahun 1962, embargo AS terhadap Kuba diperketat sejak pemerintahan Presiden Donald Trump, yang memberlakukan lebih dari 240 sanksi terhadap pulau itu.

Ekonomi Kuba mulai melihat sedikit pemulihan selama paruh pertama tahun ini.

Namun, blokade AS, yang hampir tidak berubah, terus menjadi hambatan utama bagi perkembangan Kuba, kata ekonom Kuba, Jose Luis Rodriguez.

Ekspor Cerutu

Meski diembargo AS, Pemerintah Kuba terus berupaya meningkatkan ekspor cerutu demi memulihkan perekonomian negaranya, pada saat negara itu menghadapi tantangan pandemi COVID-19 dan embargo perdagangan Amerika Serikat (AS).

Terletak di pinggiran ibu kota Havana, pabrik cerutu El Laguito terkenal karena memproduksi cerutu Cohiba selama lima dekade terakhir.

Pabrik itu merupakan salah satu dari lima pembuat cerutu kualitas ekspor di Havana, yang memiliki sekitar 250 pekerja, di mana 70 persennya adalah perempuan.

Di antara pekerja itu adalah Nelsa Leonard, yang mulai bekerja di El Laguito sejak tahun 1968. Dia mengharapkan produksi cerutu Kuba dapat membantu memulihkan ekonomi negaranya di tengah pandemi COVID-19.

“Ini adalah cerutu terbaik di dunia dan Cohiba adalah merek teratas kami. Kami melakukan yang terbaik untuk menjual cerutu Kuba sebanyak mungkin ke dunia,” ujarnya, seperti dikutip Xinhua.

Data resmi menunjukkan bahwa pada tahun 2021, negara Karibia itu melaporkan rekor penjualan cerutu lintingnya senilai lebih dari 507 juta USD atau sekitar Rp7,6 triliun. Industri tembakau merupakan salah satu dari empat sektor inti yang berkontribusi paling besar terhadap PDB Kuba.

Direktur pabrik cerutu El Laguito, Oscar Rodriguez, mengatakan bahwa mereka saat ini membuat sekitar 9.000 cerutu Kuba sehari.

Baca Juga: Diembargo AS, Negara Ini Mencoba Bangkit dengan Perkuat Ekspor Cerutu
Stok Surplus, Bulog Bakal Ekspor Jagung ke Filipina

“Kami tetap bekerja meski di tengah pandemi COVID-19 karena ini merupakan sektor yang sangat penting bagi kinerja perekonomian. Pabrik ini diproyeksikan akan mengirimkan 2 juta cerutu Kuba pada akhir tahun ini,” terangnya.

Kementerian Pertanian Kuba mengatakan panen tembakau yang akan datang dijadwalkan dimulai pada bulan Oktober tahun iniPanen itu terjadi di tengah pandemi COVID-19 dan intensifikasi embargo perdagangan AS terhadap negara Karibia itu.

Video Terkait