Potensi Ketegangan Baru di Laut Hitam Picu Harga Gandum Meroket

Ilustrasi ladang gandum. (Foto: Unsplash)

Editor: Yoyok - Rabu, 21 September 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Rencana empat wilayah Ukraina menggelar referendum dan mendesak untuk bergabung dengan Rusia menjadi kekhawatiran baru bagi pelaku pasar komoditas pertanian. Pedagang khawatir pasokan gandum melalui Laut Hitam bakal terganggu. Hal ini tercermin dari harga gandum berjangka Chicago yang menguat pada penutupan perdagangan Selasa (20/9) atau Rabu (21/9) pagi WIB. 

Dilaporkan, harga kontrak gandum yang paling aktif diperdagangkan di Chicago Board of Trade (CBOT) ditutup melesat 63,25 dolar AS menjadi 893,75 dolar AS per bushel, kenaikan harian terbesar sejak 3 Maret. Kontrak tersebut mencapai 896,75 dolar AS selama sesi itu, level tertinggi sejak 11 Juli.

Sementara itu, harga kedelai berjangka CBOT melonjak 17,50 dolar AS menjadi 1.478,75 dolar AS per bushel, sedangkan jagung meningkat 13,75 dolar AS menjadi 692 dolar AS per bushel, setelah menyentuh 693,50 dolar AS, level tertinggi sejak 13 September.

Kekhawatiran atas pengiriman Laut Hitam menggeliat setelah para pemimpin yang ditempatkan Moskow di daerah-daerah pendudukan di empat wilayah Ukraina menetapkan rencana referendum untuk bergabung dengan Rusia pekan ini, sebuah langkah yang ditolak Ukraina sebagai aksi oleh Rusia setelah baru-baru ini mengalami kekalahan besar di medan perang.

"Ada juga pembicaraan bahwa Presiden (Rusia) (Vladimir) Putin dapat memblokir pembaruan kesepakatan jalur aman Ukraina/Rusia, yang akan berakhir pada November," kata Terry Reilly, analis Futures International.

Sementara itu, invasi Rusia terhenti dalam beberapa bulan terakhir dan Ukraina telah merebut kembali sebagian besar wilayah di timur laut. 

Sekarang pejabat yang didukung Rusia di timur dan selatan mengatakan mereka ingin mendapatkan dukungan suara untuk bergabung dengan Rusia mulai minggu ini. 

Sebagai catatan, Rusia mencaplok Krimea pada 2014, setelah pemungutan suara menuai kecaman internasional. 

Presiden Rusia Vladimir Putin seharusnya menyampaikan pidato terkait isu itu pada Selasa malam, tetapi sumber-sumber yang dekat dengan Kremlin kemudian mengindikasikan bahwa rencana itu telah ditunda tanpa alasan yang diberikan sebagaimana dikutip BBC.com, Rabu (21/9/2022). 

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan bahwa referendum palsu tidak akan mengubah apa pun. 

Menurutnya, komunitas internasional tidak pernah mengakui pencaplokan Krimea, namun Rusia sejak lama berniat untuk mengambil alih wilayah pendudukan lainnya dengan cara yang sama. 

Mencaplok lebih banyak wilayah akan menjadi alasan bagi Kremlin untuk mengklaim bahwa Rusia terancam diserang oleh senjata NATO. Rusia meluncurkan invasi pada 24 Februari. 

Ada spekulasi bahwa Rusia akan mengumumkan mobilisasi massa untuk memperkuat kekuatannya di Ukraina. Parlemen Rusia telah menyetujui hukuman yang lebih berat untuk kejahatan seperti desersi, kerusakan properti militer dan pembangkangan selama mobilisasi atau operasi tempur. 

Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev mengatakan Selasa pagi bahwa mengadakan pemungutan suara di wilayah timur Donetsk dan Luhansk, yang juga dikenal sebagai Donbas, akan memperbaiki "keadilan historis" dan tidak dapat diubah. "Setelah amandemen konstitusi negara kita, tidak ada pemimpin Rusia, pejabat yang akan dapat membalikkan keputusan ini," katanya

Baca Juga: Potensi Ketegangan Baru di Laut Hitam Picu Harga Gandum Meroket
Harga Jagung Sentuh Level Tertinggi Dua Bulan, Efek Cuaca Panas

Harga jagung dan kedelai berjangka mengikuti harga gandum yang lebih tinggi, didukung kondisi tanaman yang terdegradasi dan laju panen yang lebih lambat dari perkiraan.

Di sisi lain, laju impor China yang lambat dan lonjakan penjualan ekspor oleh Argentina meredam sentimen ekspor kedelai Amerika

Video Terkait