Meski Pungutan Ekspor Dihapus, Minyak Sawit RI Loyo di 2022

Ilustrasi minyak sawit merah. (BPBD Sawit)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 26 September 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Ekspor minyak sawit Indonesia akan melonjak pada paruh kedua tahun ini setelah pemerintah meluncurkan kebijakan penghapusan pungutan ekspor. Meski demikian, total ekspor tahun 2022 masih lebih rendah dari tahun lalu, sebesar 33,7 juta ton karena kebijakan pembatasan sebelumnya.

Ihwal kinerja ekspor minyak kelapa sawit Indonesia tersebut disampaikan Fadhil Hasan, Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) kepada Reuters di sela-sela konferensi Globoil di Agra, India.

Hasan menambahkan bahwa ekspor atau pengiriman yang lebih rendah itu akan menambah jumlah stok di dalam negeri menjadi sekitar 5 juta ton pada akhir tahun ini, dari 4,1 juta ton tahun sebelumnya,

"Ekspor akan lebih tinggi di semester kedua, tetapi itu tidak bisa mengimbangi penurunan ekspor semester pertama," kata Hasan.

Indonesia memberlakukan pembatasan ekspor minyak sawit pada paruh pertama tahun 2022 untuk mengendalikan harga di dalam negeri dan memberikan kelegaan kepada konsumen. Namun pembatasan tersebut mengangkat stok produsen ke level rekor tertinggi, sehingga beberapa produsen terpaksa berhenti membeli tandan buah segar dari petani.



Para produsen minyak kelapa sawit sekarang berusaha untuk menurunkan stok mereka setelah pemerintah baru-baru ini memperpanjang penghapusan pungutan ekspor hingga 31 Oktober.

"Pemerintah harus membebaskan pungutan ekspor minyak sawit hingga Desember 2022 untuk menurunkan stok lebih lanjut," kata Hasan.

Baca Juga: Meski Pungutan Ekspor Dihapus, Minyak Sawit RI Loyo di 2022
Mendag: Harga TBS Bisa di Atas Rp2.000 per Kg



Ia mengungkapkan bahwa Indonesia dapat memproduksi 45 juta ton minyak sawit mentah pada 2022, atau turun dari 46,9 juta ton tahun lalu. Indonesia sebelumnya diperkirakan akan memproduksi 48 juta ton.

"Perluasan areal terbatas dan produktivitas turun. Pada 2023 produksi bisa lebih rendah dari 2022," tukas Hasan.

 

Video Terkait