Diam-diam, Kanada Incar Pangsa Pasar Kedelai Indonesia

Ilustrasi Kedelai (Pixabay)

Editor: Dera - Rabu, 28 September 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Produsen kedelai Kanada berusaha untuk mengekspor lebih banyak kedelai ke negara-negara Asia-Pasifik termasuk Indonesia.

Mereka berharap pemerintah federal bisa mengatasi masalah tarif luar negeri dan hambatan lain untuk pengirimannya. Negara-negara Asia dan Pasifik dinilai akan memberikan peluang pertumbuhan yang lebih signifikan untuk ekspor kedelai Kanada.

Kedelai adalah tanaman paling berharga ke-3 di Kanada, dengan ekspor mencapai 3 miliar dolar pada tahun 2021.

"Dengan lebih dari 70 persen produksi kami diekspor, kami sangat fokus pada pasar global," kata Brian Innes, Direktur Eksekutif Soy Canada kepada Komite Perdagangan Internasional Commons.

Pasar Ekspor Kedelai Kanada

Sejauh ini, kedelai dan produk kedelai Kanada telah menembus pasar Filipina dengan pertumbuhan permintaan tahunan mencapai 12 persen selama lima tahun terakhir. Namun para produsen berharap bisa mendapatkan akses pasar ke negara-negara lain seperti Indonesia, India dan Vietnam.

Untuk mencapai itu, Kanada perlu menghapus tarif luar negeri dan membangun kolaborasi regulasi berkelanjutan pada masalah kesehatan tanaman, hewan, dan lingkungan sebagai bagian dari perjanjian perdagangan bebas dengan negara-negara seperti Indonesia.

"Di bawah komitmennya saat ini, Indonesia dapat menaikkan tarif kedelai hingga 27 persen,” jelas Innes seperti dilansir nationalnewswatch.com.

Langkah penting lainnya menurut Innes adalah mengatasi hambatan non-tarif seperti masalah sanitasi dan fitosanitasi yang terkait dengan kesehatan tanaman, hewan, dan manusia.

"Masalah ini bisa muncul tiba-tiba, menimbulkan biaya, menimbulkan risiko, dan bahkan menghentikan ekspor," katanya.

Kepada anggota parlemen Innes mengatakan akan mencari tahu kapan terakhir kali dilakukan diskusi antara regulator kesehatan tanaman di Kanada dan pihak Indonesia.

Kanada juga tengah berusaha mendorong akses ke India untuk kedelai food grade. Namun hambatannya adalah pengenaan tarif tinggi sebesar 45 persen yang kemungkinan dapat dinaikkan lagi menjadi 100 persen dalam waktu singkat.  Masalah hambatan tarif ini harus segera diselesaikan mengingat pada saat yang sama, Kanada adalah importir kedelai organik India yang masuk tanpa tarif, jelas Innes.

Kolaborasi industri-pemerintah untuk secara proaktif mencegah masalah non-tarif di seluruh kawasan Asia-Pasifik ini menurut Innes sangat penting.

Untuk Vietnam, Kedelai Kanada menghadapi aturan larangan pengiriman benih thistle dalam kapal curah meskipun AS bisa melakukannya. "Selain itu ada banyak perbedaan dalam regulasi teknologi perlindungan benih dan tanaman," lanjut Innes.

Baca Juga: Diam-diam, Kanada Incar Pangsa Pasar Kedelai Indonesia
Putin Sebut Negara Berkembang Ditipu Ukraina, Harga Gandum Melesat



Ia menegaskan, kolaborasi antara regulator Kanada dan pihak Indo-Pasifik akan sangat membantu meminimalkan hambatan perdagangan yang muncul ketika teknologi diatur secara berbeda atau tidak didasarkan pada sains.

 

Video Terkait