Harga BBM Naik, Cukai Rokok Tak Perlu Naik Juga

Ilustrasi rokok tembakau (Pixabay)

Editor: Yoyok - Rabu, 28 September 2022 | 16:00 WIB

Sariagri - Sejumlah kalangan meminta pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok pada tahun 2023. Sebab, beban masyarakat kian berat, apalagi pemerintah baru saja menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Ketua Harian Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto, mengatakan kebiasan pemerintah menaikkan cukai rokok setiap tahun dinilai tidak adil. Saat pandemi Covid-19 sedang menggila tahun 2020-2021, industri lainnya di Tanah Air mendapat insentif namun industri rokok justru dibebani dengan kenaikan cukai rokok yang besar dan memberatkan.

“Untuk itu, kami sangat menolak kenaikan cukai rokok di tahun 2023. Kami sudah sampaikan hal ini ke menteri (keuangan) dengan alasan tentunya, bukan hanya sekadar menolak karena selama ini Formasi realistis saja. Tahun depan dengan baru pulihnya ekonomi seusai pandemi kita memohon pemerintah untuk tidak menaikkan cukai di tahun depan,” ujar Heri, Rabu (28/9/2022).

Heri menjelaskan, apabila pemerintah tetap menaikkan cukai rokok banyak dampak negatif yang ditimbulkan. Pertama, akan terjadi pengurangan pegawai atau buruh yang berarti menghasilkan pengangguran yang sangat banyak. “Padahal saat ini ekonomi sedang sangat sulit,” katanya.

Yang kedua akan semakin banyak rokok ilegal. Dan yang ketiga, industri rokok terutama pabrikan rokok menengah dan kecil semakin banyak yang gulung tikar alias bangkrut.

Itu berarti menimbulkan efek negatif juga bagi pemerintah. Akan semakin mempersulit ekonomi.

Sedangkan Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo), Benny Wahyudi, menyatakan usulan kenaikan cukai rokok setiap tahun selain karena pemerintah membutuhkan dana juga karena adanya tekanan dari dunia luar, terutama kalangan lembaga swadaya masyarakat, agar menaikkan cukai rokok.

“Pemerintah seharusnya mempertimbangkan kepentingan industri nasional, kepentingan ekonomi nasional, kepentingan petani, dan kepentingan buruh. Di sini harusnya ada keseimbangan. Apalagi kita baru saja menghadapi Covid-19 yang memporak porandakan sektor ekonomi secara keseluruhan. Industri rokok sebagai bagian dari industri dan bagian dari ekonomi harusnya dapat pulih dulu, terlepas dari adanya gerakan anti tembakau tadi,” tegas Benny.

Sementara penasehat Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) wilayah Jawa Tengah, Tryono dengan tegas menolak rencana atau usulan kenaikan cukai rokok di tahun 2023.

“Tidak perlu adanya kenaikan cukai rokok karena selama ini cukai rokok sudah sangat tinggi. Karena itu pemerintah tidak perlu manaikannya lagi,” tegas Tryono.

Menurut Tryono, kenaikan cukai rokok yang dilakukan pemerintah setiap tahun, bukan hanya merugikan kalangan industri rokok beserta para buruhnya. Petani tembakau pun terkena imbasnya. 

Sebab, pembelian tembakau produksi petani menjadi semakin berkurang. Hal ini merugikan dan menyengsarakan nasib dan perekonomian petani tembakau yang sedang susah karena terkena dampak kenaikan BBM.

“Kalau pemerintah masih juga menaikkan cukai rokok, akan semakin memperburuk kondisi kesejahteraan petani tembakau. Akan banyak dari para petani tembakau yang berhenti menanam tembakau karena terus merugi. Dan itu menyengsarakan nasib petani tembakau,” tegas Tryono.

Baik Ketua Harian Formasi Heri Susianto, Ketua Umum Gaprindo Beny Wahyudi, Ketua Umum Koalisi Masyarakat Tembakau Indonesia, Bambang Elf maupun Pengurus APTI, Tryono sepakat agar pemerintah segera membuat roadmap industri tembakau Indonesia.

Baca Juga: Harga BBM Naik, Cukai Rokok Tak Perlu Naik Juga
Tarif Cukai Naik, Alokasi Dana Hasil Tembakau Dialokasikan untuk Bantu Petani

Namun pembuatan roadmap tersebut harus melibatkan semua pihak, bukan hanya perwakilan masyarakat dan profesional bidang Kesehatan, tapi juga pelaku IHT termasuk di dalamnya perwakilan petani tembakau dan perwakilan buruh IHT.

“Dengan adanya roadmap, rencana pemerintah ke depan terhadap masa depan IHT jelas. Berapa kenaikan cukainya, kapan perlu dinaikannya juga semakin jelas, Sehingga masyarakat industri rokok maupun industri hasil tembakau tidak kaget,” papar Heri Susianto.

Video Terkait