Kaltim Ekspor Pisang Kepok ke Singapura Senilai Rp37,74 Miliar

Ilustrasi pisang kepok. (Antara)

Editor: Dera - Jumat, 30 September 2022 | 18:15 WIB

Sariagri - Perdana, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melakukan ekspor pisang kepok ke Singapura sejak 29 September 2022. Adapun kerjasama kedua negara bakal berlangsung selama dua tahun (2022-2024) senilai Rp37,44 miliar.

"Kamis kemarin sudah dikapalkan ke Singapura sebanyak 60 ton pisang kepok. Ini merupakan ekspor pisang perdana dalam kaitan kontrak kerja tersebut," ujar Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim Siti Farisya Yana di Samarinda, Jumat (30/9). 

Nantinya, Kaltim akan mengirim pisang kepok setiap 15 hari sekali, dengan jumlah 40-60 ton per kirim hingga tahun 2024.

Pengiriman pisang tersebut dilakukan setelah sebelumnya dilakukan kesepakatan antara perusahaan di Singapura dengan gabungan kelompok tani (gapoktan) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim).

Kesepakatan itu berupa nota kesapahaman alias Memorandum of Understanding (MoU) antara Benelux Floris & Food Pte bersama Gapoktan Berkah Bersatu Kaubun (BBK) Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dilakukan pada 16 Juni 2022 di Batam, Kepulauan Riau.

Selain disepakati lama kontrak selama dua tahun (2022-2024) dengan nilai kontrak mencapai Rp37,44 miliar, kemudian kontrak dapat diperpanjang jika masa kontrak telah habis dan hubungan keduanya saling menguntungkan.

Kualitas pisang sendiri sebelum diekspor tentu harus berstandar internasional dan sesuai yang diinginkan oleh perusahaan, sedangkan untuk sertifikasinya dilakukan oleh DPTPH Provinsi Kaltim.

Baca Juga: Kaltim Ekspor Pisang Kepok ke Singapura Senilai Rp37,74 Miliar
Perdana, Garut Ekspor Sale Pisang ke Malaysia Senilai Rp1,7 Miliar

Kesepakatan kontrak tersebut terjadi ketika pihaknya mengikuti pameran dalam rangka Indonesia Tourism and Trade Invesment Expo Batam, digelar di Nagoya Hill Shopping Mall Batam, pada 16-19 Juni 2022.

Ia juga mengatakan, sebelumnya Kaltim pernah melakukan ekspor pisang pada 2016, tapi kemudian tidak berlanjut karena adanya serangan penyakit jamur pisang, sehingga pihaknya kemudian membuka jaringan bisnis lagi untuk melanjutkan ekspor pisang yang sempat terhenti.

Video Terkait