Tiga Bahan Pangan Ini Buat Indonesia Ketagihan Impor Besar-besaran

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengunjungi gudang produk impor di kawasan pergudangan, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/9/2022). (ANTARA/HO-Kemendag RI)

Editor: Reza P - Minggu, 2 Oktober 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Dalam bayang-bayang krisis pangan global, kondisi pangan Indonesia justru terbilang aman. Pemerintah mengklaim bahwa pasokan pangan Indonesia masih mencukupi.

Namun di balik ketersediaan pangan ini, ada beberapa komoditas yang kerap membutuhkan impor dalam skala yang cukup besar untuk memenuhinya.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (BPN) I Gusti Ketut Astawa mengatakan dalam dialog mengenai krisis pangan, Sabtu (1/10), pemerintah terus menggenjot produksi beberapa komoditas pangan khususnya yang memiliki jumlah impor besar. Tidak hanya itu, pemerintah juga mengambil langkah taktis dengan melakukan substitusi agar bisa mengurangi ketergantungan impor dari luar negeri.

Dari beberapa komoditas pangan yang impor, ada tiga bahan pangan yang menjadi sorotan dengan kuota impor yang cukup besar.

Kedelai

Kedelai menjadi bahan pangan yang penting bagi masyarakat Indonesia karena untuk dijadikan tempe dan tahu. Namun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kita masih sangat bergantung pada impor. 

Hal inilah yang membuat pasokan kedelai menjadi perhatian pemerintah, pasalnya produksi kedelai lokal hanya 20 persen dari total keseluruhan pemenuhannya. 80 persen sisanya dipenuhi dengan cara impor.

"Untuk itu makanya kita harus memperkuat gairah petani untuk menanam kedelai," ujar Ketut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jika volume impor kedelai Indonesia sepanjang periode Januari-Juni 2022 mencapai 1,42 juta ton dengan nilai US$959,09 juta. 

Gandum

Selain kedelai ada gandum yang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri membutuhkan kuota besar impor. Bahan dasar untuk membuat tepung terigu ini kini menjadi rebutan pasca perang Ukraina dan Rusia pecah.

Ketergantungan impor yang cukup besar ini membuat pemerintah mengambil langkah dengan menggandeng pihak swasta untuk mencari alternatif lain. Sesuai arahan Presiden Jokowi, alternatif lain pengganti dari gandum adalah dengan sorgum. Hal ini yang terus digaungkan agar pertani mulai beralih untuk menanam sorgum.

"Saat mereka (negara produsen gandum) setop ekspor, ini jadi masalah. Maka kami ajak produsen untuk mencari alternatif," ujar Ketut.

BPS mencatat jika volume impor gandum dan meslin Indonesia sepanjang periode Januari-Juni 2022 mencapai 4,36 juta ton dengan nilai US$1,65. Australia menjadi negara sumber impor gandum Indonesia dengan nilai US$ 585,6 juta.

Bawang Putih

Sama halnya dengan kedelai, 80 persen pasokan bawang putih Indonesia ternyata masih dari impor. Pertani lokal hanya bisa memasok 20 persen saja, padahal dalam penjabaran BPN tanah di Indonesia cocok untuk ditanami bawang putih. Salah satu daerah yang potensial untuk ditanami bawang putih adalah Nusa Tenggara Barat (NTB).

Baca Juga: Tiga Bahan Pangan Ini Buat Indonesia Ketagihan Impor Besar-besaran
Cegah Wabah, Departemen Peternakan Thailand Perketat Impor Daging

Sepanjang tahun 2021, produksi bawang putih nasional hanya mencapai 45,09 ribu ton, turun 44,88% dari 81,8 ribu ton pada 2020.

Ketut mengatakan bahwa penting bagi pemerintah memberikan insentif kepada petani agar mau menanam bawang putih penuhi kebutuhan dalam negeri.

"Perlu insentif agar petani mau produksi dan ada kepastian diserap," katanya.

Video Terkait