Harga Beras Alami Kenaikan, BBM Jadi Biang Kerok

Ilustrasi Beras (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 3 Oktober 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Kepala Badan Pangan Nasional, Arif Prasetyo Adi menilai kenaikan harga beras tidak bisa dihindari. Hal ini salah satunya karena memang fertiliser atau pupuk naik.

Kedua adanya biaya tanam, kemudian biaya distribusi yang naik diakibatkan dengan kenaikan harga BBM atau bahan bakar minyak.

"Hari ini badan pangan nasional memang mengundang seluruh stakeholder terutama kementerian dan lembaga BUMN juga ada. Jadi memang tidak bisa dihindari kenaikan harga," ujar Arif, dalam Konferensi pers, di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Senin (3/10/2022).

Meski begitu, Arif menjelaskan, walaupun terjadi kenaikan harga beras, kebutuhan daya beli masyarakat akan beras tinggi.

"Ketersedian Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) hanya 30 hingga 40 ribu ton, bulan lalu sudah terdistribusi sebanyak ribu ton," terang Arif.

Bulog membeli beras langsung ke para petani yang seharusnya menyerap Rp8.300 per kg, per hari ini dinaikkan menjadi Rp8.800 per kg, sementara untuk stok Bulog hari ini sekitar 800 ribu ton.

"Tetapi Bulog menyerap sesuai sama harga yang kita tentukan bersama-sama," kata dia.

"Memang kita semua mungkin dalam minggu ini saya dan juga teman-teman dari Bulog dan juga teman teman dari kementerian pertanian Akan ke Sulawesi Selatan untuk menyerap," ungkapnya.

Baca Juga: Harga Beras Alami Kenaikan, BBM Jadi Biang Kerok
Jokowi Cegah Inflasi: Pemda Tutup Biaya Transportasi Pangan, Itu Uang Kecil

Lebih lanjut, Badan Pangan Nasional tidak akan tinggal diam untuk memenuhi stok beras dan target bulog sampai akhir tahun sebesar 1,2 juta ton.

"Jadi nanti berapapun yang diminta kita harus penuhi. jadi tadi ada permintaan 3000 ton dari teman teman pedagang. Per minggu ini kita harus siapkan karena Jakarta ini berkontribusi 27 persen nasional,"pungkasnya.

Video Terkait