Setelah Harga BBM, Inflasi Impor Bakal Mengancam Hingga Akhir Tahun

Ilustrasi - Kegiatan ekspor-impor. (Pixabay)

Editor: Yoyok - Selasa, 4 Oktober 2022 | 12:45 WIB

Sariagri - Ekonom Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyatakan bahwa inflasi masih akan naik hingga akhir tahun ini. Penyebab utamanya, selain kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), juga akibat penurunan nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa penyumbang inflasi 5,95 persen pada September utamanya dari kenaikan harga bensin, tarif angkutan dalam kota, beras, minyak solar, tarif angkutan antarkota, tarif kendaraan online, dan bahan bakar rumah tangga.

“Kenaikan harga BBM membuat inflasi dari komponen pangan lebih meningkat, karena distribusi bahan pangan sangat bergantung kepada bahan bakar jenis pertalite dan solar. 

Faktor itu berpotensi membuat inflasi akan tetap naik hingga akhir tahun, yang bisa semakin berat karena adanya pelemahan nilai tukar,” kata Bhima di Jakarta, Selasa (4/10/2022).

Selain itu, imbuh Bhima, faktor kunci inflasi beberapa bulan ke depan adalah pelemahan kurs rupiah dan penyesuaian tingkat suku bunga. Kurs rupiah melemah bisa menyebabkan inflasi impor atau imported inflation, terutama ke pangan yang sebagian diperoleh dari impor," ujarnya. 

Inflasi impor terjadi karena mahalnya harga bahan baku dan hal ini diperkirakan akan diteruskan ke konsumen. 

"Dari biaya impor akan membengkak karena rupiahnya melemah, membuat para distributor akan menyesuaikan harga di dalam negeri. Yang artinya, akan memicu imported inflation atau inflasi karena biaya impor yang membengkak," jelas Bhima.

Bhima menyebut, ada beberapa bahan pangan yang masih diimpor Indonesia, di antaranya gandum 100 persen impor, bawang putih 93 persen, kedelai 91 persen, gula 70 persen, garam 68 persen, dan daging sapi atau kerbau 38,5 persen dari total kebutuhan nasional.

Menurut Bhima, biaya input produksi di dalam negeri juga akan terkena imbas naiknya dolar AS. Dalam sektor pertanian saja, sebagian bahan baku pupuk juga masih impor.

Baca Juga: Setelah Harga BBM, Inflasi Impor Bakal Mengancam Hingga Akhir Tahun
Harga Kedelai Dunia Naik Bagaimana Nasib Tempe Tahu? Ini Kata Kemendag

"Karena pupuk sebagian juga impor, atau bahan baku pupuknya impor, maka akan mengakibatkan terjadinya kenaikan biaya input produksi, sehingga pertanian seperti beras juga terancam harganya mengalami kenaikan," katanya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar spot pada pukul 11.30 WIB, Selasa, menguat 34 poin atau 0,22 persen menjadi Rp15.269 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya Rp15.303 per dolar AS.

Video Terkait