Harga Kedelai Meroket, Pengusaha Tempe Terancam Bangkrut

Perajin tempe terancam bangkrut. (Sariagri/Iwan K )

Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 4 Oktober 2022 | 21:30 WIB

Sudah sejak sepekan lebih, produksi tempe di salah satu rumah perajin tempe di kawasan Jalan Sentra Listrik, Kelurahan Gedung Pakoun, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, sepi aktivitas.

Saat disambangi pada Selasa (4/10/2022) siang, puluhan pelaku usaha pembuatan tempe mengaku terancam gulung tikar dan memilih untuk tidak memproduksi tempe untuk sementara waktu.

Menurut Yanti (67 tahun), salah satu pembuat tempe, hal itu karena harga bahan baku utamanya yakni kedelai kini sudah mencapai Rp13 ribu lebih. Kondisi ini membuat para perajin tempe merugi, karena tingginya biaya produksi tidak sebanding dengan pendapatan.

“Apalagi sekarang lagi sepinya pembeli tempe di pasar. Kami terancam bangkrut,” keluh wanita yang sudah sekitar 40 tahun menekuni usaha pembuatan tempe itu dan mengaku kini omsetnya turun hingga 50 persen.

Ia berharap pemerintah segera turun tangan supaya harga kedelai kembali turun. Sebelum harga kedelai turun, Yanti dan keluarganya bahkan berencana menghentikan produksi tempe dan memilih pulang ke kampung halamannya sambil menunggu harga kedelai stabil.

“Saat ini kami hanya produksi untuk menghabiskan stok kedelai yang masih ada. Sudah harga kedelai mahal, ditambah kenaikan BBM yang membuat biaya angkut ke pasar juga semakin mahal,” terus Yanti.

Baca Juga: Harga Kedelai Meroket, Pengusaha Tempe Terancam Bangkrut
Perajin Tahu Tempe Resah, Begini Jawaban Mendag Zulhas

Pengusaha lain, Nurhasanah (30), juga mengeluhkan hal serpa. Menurutnya harga kedelai terus naik sejak sepekan lalu dan penjualan tempe di pasaran juga terasa sepi. Harga kedelai menurutnya naik dari sebelumnya Rp12 ribu per kilogram.

Pengusaha tempe berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membuat harga kedelai kembali stabil di bawah Rp10 ribu per kilogram. Sebab, jika terus naik, akan banyak pengusaha yang bangkrut.

Video Terkait