Perajin Tahu Tempe Banting Stir Produksi Kerupuk, Ini Alasannya

Perajin tempe terancam bangkrut. (Sariagri/Iwan K )

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 14 Oktober 2022 | 17:45 WIB

Sariagri - Kenaikan harga kacang kedelai yang menembus angka Rp13.000 per kilogramnya, memaksa perajin tahu di Kabupaten Gowa, Sulawesi selatan, banting setir memproduksi kerupuk.

Tingginya harga kedelai sebagai bahan dasar pembuatan tahu dan tempe dirasakan berat oleh salah satu perajin. Pemilik usaha sudah tidak lagi memproduksi tahu dan tempe, melainkan beralih memproduksi kerupuk kemasan.

Pemilik pabrik, Anto mengemukakan dirinya terpaksa membanting setir dari perajin tahu tempe ke usaha kerupuk karena daya jual tahu yang tak seimbang sehingga menyebabkan bengkaknya biaya produksi serta omzet penjualan tahu yang kian hari semakin merosot.

"Kemarin sudah Rp 13.000, kalau saya sudah tidak produksi. untuk menyambung hidup ini ya kerupuk. Yang masih produksi tahu sekarang ini, ya istilahnya modal besar karena sudah banyak tersimpan. Kalau kita kemarin itu cuma jalan-jalan (tidak ada keuntungan), bahkan untuk kebutuhan sudah tidak mencukupi", tuturnya.

Baca Juga: Perajin Tahu Tempe Banting Stir Produksi Kerupuk, Ini Alasannya
Perajin Tahu Tempe Resah, Begini Jawaban Mendag Zulhas

Menurutnya dengan usaha kerupuk ini jauh lebih menguntungkan. Dengan biaya produksi rendah dan penjualannya lebih cepat menghasilkan.

"Nah kalau kerupuk ini kan istilahnya, sedikit tapi perputarannya cepat. Sekarang digoreng besok jadi uang. Kalau tahu kan gak begitu, kadang lima hari, satu minggu," pungkasnya.