Laporan Khusus: Kedelaiku Sayang, Perajin Tempe dan Tahu Tumbang

Kedelaiku sayang, perajin tempe dan tahu tumbang. (Sariagri/Faisal Fadly)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 14 Oktober 2022 | 19:15 WIB

Sariagri - Di antara banyak jenis makanan yang tersedia di meja makan, tak afdal rasanya jika tahu atau tempe tidak tersedia. Panganan ini merupakan pondasi karena dianggap paling mudah dan murah untuk dinikmati masyarakat Indonesia.

Apalagi di tengah krisis pangan akibat dampak Covid-19 dan juga perang Rusia-Ukraina. Keadaan ini menyebabkan sejumlah ketersediaan bahan baku terkendala, tak terkecuali kedelai.

Harga impor kedelai kian melambung tinggi, diperparah dengan produksi kedelai dalam negeri yang sangat minim membuat sejumlah industri tahu tempe memperkecil ukuran produksinya.

Bahkan sejak awal tahun, sejumlah industri tahu tempe di Indonesia sepakat melaksanakan aksi mogok produksi tahu dan tempe. Mereka merasa tercekik dengan meroketnya harga kedelai, karena tidak sanggup untuk membeli dan menjual lagi dengan harga normal di pasaran.

Melonjaknya harga kedelai pada awal tahun 2022 telah membuat produsen tempe dan tahu merana. Mereka terpaksa berhenti berproduksi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor 2,49 juta ton kedelai dengan nilai mencapai US$ 1,48 miliar pada 2021. Di tahun sebelumnya, terjadi penurunan 2, 47 juta ton kedelai.

Impor Kedelai tiap negara di Indonesia. (Sariagri/Faisal Fadly)
Impor Kedelai tiap negara di Indonesia. (Sariagri/Faisal Fadly)



Kendati demikian, terjadilah gejolak harga, kini Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menyiapkan subsidi kedelai Rp1.000 per kilogram untuk para perajin tahu dan tempe. Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan berjanji pemerintah akan mempermudah penyaluran subsidi kedelai.

Pemerintah bakal menyalurkan kedelai subsidi sebesar 200.000 ton per bulan pada Desember 2022 mendatang Zulkifli menyatakan bahwa pemberian subsidi kedelai ke para perajin tahu tempe mengalami kesulitan untuk mendapatkan subsidi kedelai. Misalnya kesulitan pada pemenuhan syarat-syarat penerima subsidi.

Maka dari itu, pemerintah telah sepakat untuk memperpanjang penyaluran subsidi kedelai hingga akhir tahun. Sebab, realisasi penyaluran subsidi yang dilaksanakan selama April-Juli 2022 lalu hanya 80,2 ribu ton atau 10 persen dari target subsidi kedelai sebesar 800 ribu ton.

"Baru terpakai sekitar 10-20 persen, makanya saya sedang usulkan agar syaratnya dipermudah untuk dapat Rp 1.000 per kg, jangan sampai orang mesti punya ini, punya ini, maksudnya subsidi harga saja" kata Zulhas, di Jakarta (11/10/2022).

Perlu diketahui, sebelumnya Zulkifli menegaskan akan melanjutkan program bantuan pembelian selisih harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe hingga akhir 2022. Dengan bantuan ini diharapkan para peerajin produk tersebut dapat terus berporduksi, sehingga kebutuhan masyarakat akan kebutuhan protein nabati terpenuhi.

"Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang program bantuan selisih harga pembelian bahan baku kedelai untuk perajin tahu tempe sebesar Rp 1.000 per kg sampai akhir Desember 2022. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga kedelai di tingkat perajin yang mengalami kenaikan," ucap Zulhas saat bertemu dengan perajin tahu tempe di Kantor Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) Bandar Lampung, Provinsi Lampung, pada Jumat (30/9/2022).

"Dengan demikian, para perajin tahu dan tempe bisa mendapatkan harga kedelai yang terjangkau serta menjaga keberlangsungan usahanya memproduksi tahu dan tempe dengan harga yang wajar," tambahnya.

Program Subsidi Kedelai Terhambat

Lebih lanjut, program subsidi kedelai yang dilaksanakan pada April-Juli lalu terhambat penyalurannya akibat persoalan data penerima. Sehingga banyaknya izin operasonal koperasi perajin tahu dan tempe yang sudah mati karena tidak diperpanjang.

Sementara, penyaluran subsidi kedelai menuntut persyaratan administrasi yang lengkap agar anggaran subsidi dapat dicairkan oleh pemerintah. Adapun, dana subsidi itu bersumber dari anggaran cadangan stabilisasi harga pangan (CSHP) yang dialokasikan sebesar Rp 955 miliar.

Perajin Tahu Tempe Klaim Tidak Mendapatkan Subsidi Kedelai

Meski kebijakan subsidi kedelai sudah berjalan, faktanya sejumlah perajin tahu tempe belum mendapatkannya secara optimal. Ketua Paguyuban Tahu Sumber Berkah, Imam Subkhi mengatakan bahwa hingga kini pihaknya selaku perajin tahu belum mendapatkan sama sekali subsidi kedelai.

Pernyataan Ketua Paguyuban Tahu Sumber Berkah. (Sariagri/Faisal Fadly)
Pernyataan Ketua Paguyuban Tahu Sumber Berkah. (Sariagri/Faisal Fadly)

Baca Juga: Laporan Khusus: Kedelaiku Sayang, Perajin Tempe dan Tahu Tumbang
Perajin Tahu Tempe Banting Stir Produksi Kerupuk, Ini Alasannya



Imam mengatakan, harga kedelai di tingkat perajin mencapai Rp.13.000 per kilogram, per Kamis (13/10). Sehingga apabila subsidi Rp1.000 per kilogram diberikan, maka bisa menghemat cost produksi bahkan hingga Rp100 juta per hari.

"Ya kalau dapat subsidi Rp1.000 sangat membantu. Kalau di perkumpulan kami, satu hari bisa produksi sampai 100 ton lebih. Berarti bisa menghemat 100 juta perhari kalau ada subsidi," ujarnya.

Imam mengakui sejak 2020 lalu, para perajin tahu kesulitan untuk menjual di pasaran karena harga kedelai yang terus melonjak.

"Teman-teman perajin tahu sejak 2020 mengalami kesulitan terus menerus. Dari 2020 sampai sekarang itu terjadi kenaikan (harga kedelai 100 persen),"tambahnya.

Oleh karenanya, Imam meminta kepada pemerintah agar bisa menstabilkan harga kedelai di tingkat perajin. Setidaknya, pemerintah bisa menstabilkan harga untuk 2 hingga 3 tahun ke depan.

"Jadi kalau naik di pengrajin misal sekarang Rp13.000 per kilogram itu bisa saja kami atur, seperti potongannya diperkecil. Tapi harga besok naik lagi, satu bulan selanjutnya naik lagi. Itu yang membuat kami susah, kami harus mengubah harga terus," jelasnya.

Senada dengan hal tersebut, Rochim seorang perajin tempe dari Lamongan mengaku belum mendapatkan subsidi kedelai dari pemerintah. Menurutnya, penyaluran subsidi belum merata di seluruh Jawa Timur.

"Belum menerima (subsidi). Katanya lewat Kopti (Koperasi Produsen Tahu dan Tempe). Sedangkan di Lamongan enggak ada Kopti jadi rada kesulitan. Kemarin ada subsidi tapi enggak sampai Lamongan, cuma di Gresik, Surabaya dan Sidoarjo," ujar Rochim kepada Sariagri, Kamis (13/10/2022).

Rochim mengatakan, pemberian subsidi kedelai sebenarnya bisa sangat membantu para perajin saat ini di tengah melonjaknya harga kedelai. Akan tetapi, bantuan subsidi kedelai tersebut tidak akan bertahan lama apabila pemerintah tidak bisa menstabilkan harga.

"Biasanya yang sudah dapat (subsidi) didata setiap Provinsi membutuhkan berapa ton per bulan. Misal 100 ton, paling berjalan 3 bulan subsidi sudah selesai," ucapnya.

Nilai Subsidi Kedelai Terlalu Rendah

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah menjelaskan pemberian subsidi kedelai Rp1.000 per kilogram terlalu kecil. Menurutnya, pemberian yang tepat sebesar RP2.500 agar tidak memberatkan para perajin tahu tempe.

"Harusnya sekitar Rp2.500 asumsinya, artinya tidak lebih dari Rp10.000 per kilogram. Daya beli masyarakat kita lagi turun, karena harga BBM kita lagi naik. Jadi yang ideal menurut saya bukan Rp1.000 tapi Rp.2.500," ucap Trubus kepada Sariagri, Kamis (13/10).

Trubus menjelaskan kebijakan subsidi kedelai ini sebenarnya hanya untuk memberikan stimulus kepada perajin tahu dan tempe agar tetap bertahan di tengah dinamika harga maupun permintaan pasar.

"Perajin tahu tempe, sebagai pihak misalnya UMKM sehingga punya kesempatan berinovasi mengembangkan potensi yang lebih besar. Jadi kalau perajin ini bisa inovasi, dia kan bisa perluas pasar lebih baik kalau dia dapat Rp.2500 per kilogram," terangnya.

Video Terkait