Harga Kedelai Tembus Rp13.400, Produsen Tahu Tempe Mulai Resah

Produsen tahu tempe di Jawa Timur. (Sariagri/Arief L)

Editor: Dera - Kamis, 20 Oktober 2022 | 12:45 WIB

Harga bahan baku kedelai impor yang tak kunjung turun, memaksa para produsen tempe dan tahu bersiasat. Mereka mensiasati agar omzet tidak terus merosot dengan memperkecil ukuran.

Seperti yang ditempuh, Kurdi Arifullah, pengusaha tempe dan tahu di Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.

Selain memperkecil ukuran tempe dan tahu, ia juga menaikan harga ampas tahu. Langkah ini ditempuh, demi menutupi biaya produksi dan membayar karyawan pabrik agar tidak mengalami kerugian yang lebih besar.

“Awal Oktober kemarin sudah diperkecil, dari ukuran 36 menjadi 49 sekarang diperkecil lagi menjadi 54 potong per papannya. Ini berlaku untuk semua produksi baik tempe maupun tahu. Demikian pula harga ampas tahu dinaikan dari awalnya dijual Rp40.000 perkarung  menjadi Rp50.000,” beber Kurdi Arifullah kepada Sariagri, Kamis (20/10/2022).  

Saat ini, harga kedelai impor di pasar Kabupaten Pamekasan, sudah menembus di angka Rp13.400. Kurdi menyebut kenaikan ini terjadi setiap hari selama dua bulan terakhir dan ini membuat pengusaha tempe tahu rumahan resah.

“Bagaimana tidak resah, tiap hari naik antara Rp100 hingga Rp200 per kilo. Dua bulan lalu, kedelai impor masih diharga Rp10.000-an, terus naik dan naik hingga tembus Rp13.400 sekarang,” ujarnya.

Kenaikan harga kedelai impor ini berdampak pada membengkaknya biaya produksi. Meski sudah memperkecil ukuran, produsen mengaku tetap bingung dengan lonjakan harga kedelai.  

“Terus terang kami bingung, upaya apa lagi yang harus kami lakukan agar mampu bertahan dengan situasi mahalnya bahan baku kedelai. Padahal kami juga sudah meminimalisir biaya produksi. Gak mungkin juga kami menaikan harga, pastinya pelanggan akan kabur,” tandanya.

Upaya memutar otak demi mempertahankan produksi pabrik tempe dan tahu agar terus berjalan juga dilakukan para produsen di Kota Pasuruan.

Juwariyah, salah seorang pengusaha tempe di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan mengatakan kenaikan harga kedelai dari Rp10.000 menjadi Rp13.400 rupiah perkilogram, memaksanya memperkecil ukuran tempe hingga 2 cm.

“Bagi saya lebih baik memperkecil ukuran tempe daripada menaikkan harga jual. Karena khawatir dikomplain oleh pelanggan. Kita lihat bulan depan, jika harga kedelai impor tidak kunjung turun, bukan tidak mungkin sebagian karyawan akan saya rumahkan,” ungkap Juwariyah.

Ia menyebutkan kenaikan harga kedelai mengakibatkan biaya produksi membengkak. sementara omzet penjualan tempe terus menurun. Langkah memperkecil ukuran tempe bersifat hanya sementara, agar pabrik tetap bisa bertahan.

Pendapat senada juga disampaikan Hari Budiarto, pengusaha tahu di wilayah yang sama. Ia mengaku terpaksa memperkecil ukuran tahu daripada menaikkan harga jual tahu, karena ditinggalkan pelanggan.

“Ukuran tahu yang sebelumnya 58 cm kini diperkecil atau dikurangi menjadi 56 cm. upaya memperkecil ukuran ini sudah kami mulai sejak awal oktober lalu,” ucap Hari.

Selain mensiasati dengan memperkecil ukuran, ia juga terpaksa menurunkan bahan produksi. Jika sebeluamnya, setiap hari biasa memproduksi tahu dengan menggunakan kedelai sebanyak satu ton setengah. Kini produksi tahu diturunkan dengan menggunakan 5 kuintal kedelai.

Baca Juga: Harga Kedelai Tembus Rp13.400, Produsen Tahu Tempe Mulai Resah
Perajin Tahu dan Tempe di Kudus Mulai Cairkan Subsidi Harga Kedelai

Agar para pengusaha tempe dan tahu tetap bisa berproduksi, pemerintah diharapkan dapat menurunkan kembali harga kedelai.

“Mohon pemerintah segera mengambil tindakan untuk menekan laju kenaikan harga kedelai, sebab tanpa campur tangan pemerintah, harga kedelai tidak mungkin turun. Jika kondisi ini dibiarkan bukan tidak mungkin pengusaha tempe dan tahu akan menutup usahanya,” tandas Hari.