Harga Kedelai Melejit, Produsen Tempe Minta Maaf ke Pelanggan

Perajin tempe di Surabaya, Jawa Timur mengurangi produksi. (Foto: Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 26 Oktober 2022 | 14:45 WIB

Melambungnya harga kedelai impor saat ini hingga tembus di angka Rp13.400 per kilogram (kg), dikeluhkan produsen tempe di sejumlah wilayah di Jawa Timur. Demi bisa tetap bertahan produksi, mereka terpaksa memperkecil ukuran.

Seperti yang dilakukan Su’id, produsen tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Semenjak harga bahan baku kedelai terus merangkak naik, memaksa ia memperkecil ukuran tempe.

Produsen resah lantaran harga kedelai seakan tidak terkendali. Pemerintah diminta turut campur tangan agar harga kedelai tidak semakin memberatkan pelaku UMKM.

“Harga kedelai mengalami kenaikan signifikan belakangan ini. Dari 2 bulan lalu masih dikisaran Rp10.500 per kilo sekarang menjadi 13.400. per hari kenaikan Rp100. Kalau pemerintah tidak campur tangan, kemungkinan harga bisa naik lagi,” keluh Su’id kepada Sariagri, Selasa (25/10/2022).

Hingga kini, ia mengaku tidak mengetahui penyebab lonjakan harga kedelai impor. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah untuk menurunkan dan menstabilkan harga kedelai, tidak menutup kemungkinan banyak produsen tempe yang gulung tikar.

“Di kampung tempe desa beji, sekarang produsennya tinggal belasan orang, bisa dihitung jari. Pandemi 2 tahun lalu, ada puluhan produsen tempe yang sudah tutup. Jika harga kedelai tak kunjung turun, bisa-bisa yang tutup akan nambah lagi,” bebernya.

Produsen tempe memperkecil ukuran sebagai dampak dari naiknya harga kedelai juga ditempuh, Imam Sutanto, perajin kecil di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Langkah ini terpaksa diambil demi tetap bisa melakukan produksi seperti biasa.

“Harga kedelai impor saat ini telah menyentuh Rp13.400 per kilo dirasa sangat memberatkan perajin tempe kecil seperti saya. Agar tidak terus merugi, saya minta maaf ke pelanggan terpaksa mengurangi ukuran potongan tempe sebagai cara menyiasati mahalnya harga kedelai,” tutur Imam Sutanto.

Setiap harinya, ia mengaku rata-rata membutuhkan 3,5 kuintal kedelai untuk memproduksi tempe. Jumlah tersebut sudah diturunkan 50 persen produksi dari sebelumnya per hari mengolah 7 kuintal bahan baku kedelai.

Upaya memperkecil ukuran tempe, untuk menutupi kerugian yang lebih besar juga terpaksa dilakukan Rochim, produsen tempe di Kelurahan Sukomulyo, Kecamatan kota, Kabupaten  Lamongan.

Ia menyebut kenaikan harga kedelai hampir terjadi setiap harinya, membuat para produsen tempe kelimpungan. Pasalnya jika menaikan harga jual tempe akan mendapat protes dari pelanggan. Maka ia lebih memilih memperkecil ukuran produksi.

Baca Juga: Harga Kedelai Melejit, Produsen Tempe Minta Maaf ke Pelanggan
Tingginya Harga Kedelai, Perajin Tahu dan Tempe Mulai Naikkan Harga



“Kenaikan harga kedelai ini, sudah terjadi sejak awal tahun baru lalu. Mulai dari harga Rp9.000 per kilogram hingga saat ini berada di angka Rp13.400 per kilogram. Pilihannya hanya dua menaikan harga jual tempe atau memperkecil ukuran. Berat sebetulanya tapi saya kira pelanggan sudah bisa memahami,” terangnya.

Dibantu 6 orang karyawannya,  setiap hari Rochim mampu menghabiskan sebanyak 5 kuintal kedelai untuk dijadikan tempe.

“Yang bisa dilakukan perajin yo hanya mengurangi ukuran. Biasanya harga Rp2.000 ukuran 3 ons jadi 2 ons. Saat ini yang masih bertahan di wilayah sini tinggal 36 perajin tempe. Berat jika ditanya nasib ke depan. Jika tak kuat menjalani yo istilahnya tutup sementara,” tandasnya.