Harga Kedelai Tembus Rp14.600, Produsen Tahu Kelimpungan

Perajin Tahu pusing dengan kabar kedelai impor naik. (Sariagri/Arief L)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 3 November 2022 | 12:30 WIB

Harga kedelai impor yang tak kunjung turun dan justru semakin melejit, membuat para produsen tahu di sejumlah wilayah di Jawa Timur, kelimpungan.

Pasalnya dengan harga saat ini tembus di angka Rp14.600 per kilogram (kg), para produsen tahu kebingungan untuk menyelamatkan usaha dari kebangkrutan.

Kenaikan harga kedelai impor ini, terjadi sejak 5 bulan lalu dan kini mengancam kelangsungan hidup dari roda usaha para pemilik pabrik tahu.

Salah satunya, dirasakan Hari Budiarto, pengusaha tahu di Desa Ponteh, Kecamatan Galis, Kabupaten  Pamekasan, Madura. Ia menyebutkan bulan Juni 2022 lalu, harga kedelai impor asal USA masih di kisaran Rp10.400/kg.

Kenaikan paling parah terjadi saat pemerintah mengumumkan kebijakan menaikan harga BBM subsidi. Akibatnya harga kedelai langsung meroket dan kian sulit dikendalikan.

“Tiap hari kenaikan kedelai antara Rp100 hingga Rp200 per kilo. Saya ingat waktu awal September diumumkan kenaikan harga BBM seketika kedelai cepat naik harganya dari saat itu Rp12.100 kini di awal November sudah mencapai Rp14.600 per kilo,” keluh Hari Budiarto kepada Sariagri, Rabu (2/11/2022).

Dampak mahalnya harga bahan baku kedelai impor ini, membuat biaya operasional pabrik membengkak. Demi mempertahankan usaha beragam cara mensiasatinya juga sudah dilakukan. Mulai dari memperkecil ukuran  tahu, menaikan harga apas tahu hingga menurunkan produksi.

Hari mengatakan biasanya ia mampu mengolah bahan baku kedelai sebanyak 1,5 ton, kini dengan harga kedelai terus naik, terpaksa diturunkan menjadi 1 ton saja per harinya.

“Penurunan omzet pasti, tiap bulan pendapat terus turun. Demi perputaran roda usaha agar tetap bisa jalan dan bagaimana upaya menekan kerugian yang besar sudah dilakukan. Seperti diperkecil ukuran, bahan produksi diturunkan. Namun belum bisa memberikan keuntungan berarti,” tambahnya.

Sementara untuk menaikan harga, ia tidak berani lantaran khawatir pelanggan akan beralih ke pabrik tahu lainnya. Kini, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghadapi harga kedelai yang terus meroket. Jika pertengahan bulan November ini masih terus naik, dimungkin ia akan merumahkan separuh pegawainya.

“Gak tau harus bagaimana lagi. Hanya bisa pasrah melihat kenyataan harga kedelai terus naik. Jika pertengahan bulan ini masih naik lagi, saya pastikan sebagian pegawai akan diliburkan sementara,” tuturnya.

Kegelisahan serupa juga dirasakan Juwariyah, produsen tahu di Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Ia mengaku mulai kelimpungan saat harga kedelai sudah tembus di angka Rp14.600/kg.

“Sebelumnya harga kedelai Rp12 ribuan, saya masih mampu bertahan, meski harus mengorbankan hak konsumen dengan memperkecil ukuran. Namun begitu awal November naik lagi menjadi Rp14.600 per kilo, terus terang berat untuk bertahan,” akunya.

Ia mengaku sama dengan pengusaha tahu lainnya yang keberatan untuk menaikan harga jual tahu, lantaran khawatir dikomplain oleh pelanggan.

“Sementara ini yang bisa kami lakukan yakni memperkecil ukuran tahu antara 1 senti hingga 2 sentimeter. Semula satu papan ukuran panjang 58 sentimeter, sekarang menjadi 56 sentimeter. Demikian pula irisannya juga dikecilin sedikit,” bebernya seraya menunjukan cara memperkecil ukuran tahu.

Perajin Perkecil Ukuran Tahu

Siasat memperkecil ukuran juga dilakukan Abdul Munif, Produsen tahu di Desa Kepunten, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Langkah ini ditempuh untuk menutupi ongkos produksi yang kian membengkak.

“Cara paling mudah mengakalinnya yakni memperkecil irisan tahu. Harga ecerannya tetap seribu per biji tapi irisan diperkecil. Sedangkan untuk menaikan harga jual tahu, saya tidak berani, karena takut tidak laku. Cara lain sementara ini menurunkan produksi,” terangnya.

Abdul Munif menyebutkan sebelumnya, ia biasa memproduksi sebanyak 2,5 kuintal tahu dalam sehari. Namun semenjak harga kedelai melonjak, kini cukup memproduksi 1 kuintal saja per hari.

“Kami berharap pemerintah bisa turun tangan menstabilkan harga kedelai impor, agar produksi dan omzet usaha tahu kembali meningkat,” tandasnya.