Apa Benar Indonesia Kebal Resesi dan Krisis?

Ilustrasi Ekspor Impor. (Sariagri/Pixabay)

Editor: Yoyok - Kamis, 10 November 2022 | 16:45 WIB

Sariagri - Resesi berbeda dengan krisis. Resesi berkaitan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi berturut-turut sedangkan krisis adalah situasi terjadi penurunan beberapa indikator ekonomi.

Dampak yang terjadi dalam resesi bisa lebih besar dan luas dibandingkan dengan krisis.

Saat ini, indikasi terjadi resesi ekonomi sudah merasuki sejumlah negara. Pemicunya, inflasi yang tinggi akibat melesatnya harga pangan dan energi, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat (AS). 

Indonesia sendiri juga khawatir dengan resesi. Sebab, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berulang kali menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak baik-baik saja sehingga akan mempengaruhi ekonomi dalam negeri. 

Sekalipun khawatir, namun Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia Triwulan 1 hingga Triwulan 3-2022 tumbuh 5,72 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Hebatnya lagi, tren pemulihan terjadi pada sektor konstruksi, pertanian dan pertambangan. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia itu dipengaruhi sejumlah indikator baik global maupun domestik. Salah satunya pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama di kuartal III- 2022, yang tercatat tetap mengalami pertumbuhan dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Selain itu, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 juga dipengaruhi harga sejumlah komoditas di pasar global. Kondisi ini membuat kinerja neraca perdagangan RI mengalami suprlus 14,92 miliar dolar AS atau naik 12,58 persen (year on year/yoy). 

Sementara dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat yang semakin pulih dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya. 

Pelonggaran syarat perjalanan menjadi pendorong meningkatnya mobilitas masyarakat. 

Kemudian adanya respons pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Dua di antaranya ialah peningkatan realisasi program perlindungan sosial yang tumbuh sebesar 12,46 persen secara year on year dan peningkatan realisasi subsidi BBM sebesar 111,95 persen.

Kondisi ekonomi Indonesia itu tentu saja masih sementara. Sebab, rintangan belum berakhir, salah satunya perang Rusia-Ukraina masih berlangsung. Kemudian, ekonomi China belum pulih dari wabah Covid-19, demikian juga ekonomi Amerika Serikat dan Eropa masih dirongrong inflasi tinggi. 

Bahkan, kalau bank sentral di seluruh dunia meningkatkan suku bunga cukup ekstrem dan bersama-sama, dunia bakal mengalami resesi di tahun 2023. JIka ini terjadi, kemungkinan besar Indonesia juga terkena dampaknya, mengalami resesi.

Baca Juga: Apa Benar Indonesia Kebal Resesi dan Krisis?
Pertumbuhan Triwulan IV Akan Sedikit Termoderasi, Ini Penjelasan Menkeu Sri

Jadi, tidak semua negara bisa kebal resesi, apalagi kebal krisis. Pengalaman Indonesia sebelumnya akan menjadi acuan ke depan, salah satunya menekan inflasi dengan menjaga stabilitas harga melalui operasi pasar. 

Selain itu, Indonesia juga harus siap menghadapi penurunan harga komoditas berkaitan dengan berkurangnya permintaan. Artinya, kesempatan seperti tahun ini, memperoleh devisa dari dar ekspor komoditas, bisa tak berulang di tahun depan.

Video Terkait