Mantan TKI Ilegal Sukses Jalankan Budidaya Jamur dan Dirikan Koperasi

Mantan TKI Ilegal di Klakah, Lumajang, menghimpun warga di sekitar rumahnya dan mendirikan koperasi untuk membudidayakan jamur. (Sariagri/Marthin)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 24 November 2022 | 12:15 WIB

Sariagri - Budidaya jamur tiram untuk dikonsumsi sangat populer, lantaran memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, baik dari jamur segar maupun produk olahan makanannya. Melihat peluang ini, seorang mantan TKI Ilegal di Klakah, Lumajang, Jawa Timur, menghimpun warga di sekitar rumahnya dan mendirikan koperasi untuk mengembangkan budidaya jamur dan produk olahannya.

MI Agus S, lelaki jebolan sebuah universitas swasta di Lumajang ini awalnya menghimpun 5 orang temannya, yang beberapa diantaranya juga mantan TKI ilegal. Dengan modal minim dan sebuah bangunan sederhana untuk tempat budidaya jamur, mereka mendirikan koperasi Kelompok Petani Jamur Tiram (KPJT) 'Manut' di tahun 2016.

Agus yang menjadi Ketua KPJT 'Manut' berfilosofi, kata 'Manut' dalam bahasa Jawa adalah 'nurut", artinya semua anggota harus 'nurut' dengan aturan. Manut juga merupakan kependekan dari Membangun Manusia Seutuhnya.

Mereka kemudian berbagi tugas, ada yang melakukan pembibitan, ada yang membudidayakan jamur dan ada yang mengolah jamur menjadi beragam makanan lain. "Jamur menjadi pilihan, lantaran perawatannya sangat mudah dan cocok untuk dilakukan oleh masyarakat pedesaan, khususnya masyarakat kalangan bawah," ujar Agus.

Berkembang pesat

Usaha Agus dkk ternyata membuahkan hasil dan berkembang pesat. Seiring berjalannya waktu, anggota koperasi terus bertambah hingga mencapai 30 orang, dimana 10 orang diantaranya adalah petani jamur dan 12 orang di bagian pengolahan jamur. Dengan usaha yang keras, anggota KPJT 'Manut' mampau menghasilkan panenan rata-rata 10 ton jamur per bulan dengan nilai Rp 120 juta, di luar produksi makanan olahan.

Agus merekrut anggota yang kebanyakan ibu-ibu rumah tangga kalangan bawah yang suaminya bekerja sebagai buruh tani, kuli bangunan, tukang ojek dan pekerja informal lain. Mereka kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok dan diberikan pelatihan tentang budidaya jamur serta pelatihan pengolahan jamur menjadi aneka makanan.

Untuk budidaya jamur, Agus membatasi hanya beberapa anggota yang mengelola maksimal hanya 2.000 log dengan modal kerja maksimal 5 juta rupiah. Pembatasan dilakukan selain karena butuh modal cukup besar, budidaya jamur juga membutuhkan tempat. Khusus untuk pembibitan jamur, Agus hanya menugaskan satu orang anggota yang kemudian mengirim bibit tersebut kepada anggota yang membudidayakan jamur.

"Jadi petani jamur kita tidak boleh membuat bibit sendiri dan tidak boleh membeli bibit di tempat lain. Kompensasinya, semua hasil panen akan dibeli koperasi untuk disebarkan ke anggota lain di bagian produksi. Jika melanggar aturan akan dikeluarkan dari keanggotaan," terang Agus.

Di tangan anggota KPJT 'Manut', jamur bisa diolah menjadi beraneka makanan mulai dari bakso, roti, sate, krupuk, lumpia, abon, mie ayam, kaldu, hingga es cream dan botok serta banyak lagi varian olahan lain.

Untuk penjualan produknya, Agus merekrut anggota yang khusus bertugas memasarkan produk olahan jamur di sekitar Kota Lumajang. Selain itu, ia juga menggandeng 6 orang anggota binaan di sejumlah daerah untuk mendirikan outlet khusus produk olah jamur dari KPJT 'Manut'.
 
Untuk merawat anggotanya agar tetap loyal, KPJT 'Manut' memberikan sejumlah insentif. Setiap anggota yang melahirkan diberi hadiah 500 ribu, jika anak anggota yang bersekolah mendapat juara I akan diberikan dana pendidikan 300 ribu per semester, juara II 200 ribu, juara III 100 ribu, sedangkan anggota yang sakit mendapat bantuan maksimal 300 ribu.

Uniknya, untuk insentif tersebut KPJT 'Manut' tidak menarik iuran bulanan kepada anggotanya. "Jadi mereka akhirnya sangat senang menjadi anggota karena ada penghargaan, ada bantuan pemasaran, dicarikan pembeli baik jamur segar maupun produk olahannya," terang Agus.

Apresiasi

Usaha KPJT 'Manut' terus berkembang hingga mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak, terutama dukungan dari Pemkab Lumajang, utamanya melalui Dinas Pertanian dan Dinas Koperasi untuk merapikan menejemen, memperbaiki susunan pengurus dan pengelolaan dana bantuan.

Dengan menejeman baru, pengurus koperasi kemudian menerapkan iuran simpanan pokok Rp 50 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu per bulan sebagai modal. Selain itu koperasi juga menerapkan royalti produksi baglog, produk olahan jamur dan produksi sablon.

Pada tahun 2018, KPJT 'Manut' mendapat bantuan dari PT Telkom berupa sarana-prasarana dan dana hibah sebesar Rp 10 juta. Seluruh dana inilah yang kemudian digunakan sebagai modal kerja untuk disalurkan sebagai dana pinjaman berbunga sangat rendah, yakni 0,25% per tahun.

Perhatian juga datang dari kalangan akademis, mulai dari Poltek Negeri Jember, Universitas Negeri Jember, Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang, dan kampus lain. "Alhamdullilah menjadi kebanggaan koperasi Manut juga menjadi salah satu obyek MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka). KPJT 'Manut' jadi tempat studi banding mahasiswa mereka dan bahkan menjadi bahan skripsi," jelas Agus bangga.

Kesuksesan pengelolaan KPJT 'Manut' juga menghasilkan berbagai penghargaan, diantaranya Juara 2 Tingkat Propinsi (2019) Lomba Pelaku Usaha Olahan Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Juara 1 Tingkat Propinsi (2021) untuk lomba yang sama. KPJT Manut juga meraih juara 1 Tingkat Nasional untuk Koperasi/UMKM Binaan PT Telkom.

Selain itu, KPJT 'Manut' juga meraih Juara 2 Tingkat Nasional atas karya ilmiah yang ditulis oleh Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Dan yang tidak kalah penting, KPJT 'Manut' diapreasiasi menjadi P4S (Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya) Tingkat Utama di lingkungan Kementerian Pertanian .

Dihantam Pandemi dan berusaha bangkit

Perjalanan sukses kelompok petani jamur ini sempat mengalami penurunan saat Pandemi Covid-19 pada 2020 hingga awal 2022. Akibat berbagai pembatasan kegiatan masyarakat di luar rumah, omset penjualan anggota KPJT 'Manut' turun drastis, dan hanya bertahan melalui penjualan secara online.

Namun pascapandemi pertengahan tahun ini, para petani jamur dari Klakah ini mulai bangkit lagi. "Ya ibaratnya larinya mulai kenceng lagi, karena selama pandemi nyaris babak belur, sehingga pasca pendemi ini mulai bergerak lagi," ucap Agus.

Baca Juga: Mantan TKI Ilegal Sukses Jalankan Budidaya Jamur dan Dirikan Koperasi
Berawal dari Anak Sulungnya Gemar Makan Jamur Krispi, Ibu Muda Ini Sukses Budi daya Jamur Tiram



Apalagi, beberapa waktu lalu KPJT 'Manut' kembali mendapat bantuan modal dari PT Telkom dalam Program Pengembangan UKM Pascapandemi. "Alhammdulilah bisa sedikti mempercepat jalannya usaha anggota," pungkasnya.

Video Terkait