Laporan Khusus: Muncul Resesi Dunia, Bangkitlah UMKM Indonesia

Muncul resesi dunia, bangkitlah UMKM Indonesia. (Sariagri/Faisal Fadly)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 25 November 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Isu resesi dunia pada 2023 membuat banyak orang was-was. Hal ini sangat sensitif karena begitu berdampak bagi perekonomian negara, apalagi terhadap masyarakat.

Untungnya, Indonesia masih memiliki benteng yang namanya Usaha mikro kecil menengah (UMKM). Mengingat ketika krisis moneter 1998, pelaku usaha ini tetap eksis membantu ekonomi Indonesia untuk tetap tumbuh kearah yang positif.

Berdasarkan UUD 1945 pasal 33 ayat 4, UMKM merupakan bagian dari perekonomian nasional yang berwawasan kemandirian dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. UMKM memiliki peran yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi negara.

Ancaman resesi 2023 kian menakutkan, karena ekonomi akan berjalan lambat. Parahnya lagi, pengangguran bakal bertambah. Untuk itu, demi menyelamatkan Indonesia agar tak jatuh ke jurang yang lebih dalam, peran UMKM begitu penting.

UMKM Adalah Backbone Ekonomi Nasional

Head of Economic Opportunities Research dari CIPS Trissia Wijaya mengatakan tidak bisa dipungkiri bahwa UMKM adalah backbone dari perekonomian nasional. Mereka juga pilar dari konsumsi ekonomi makro, dimana menjadi kontribusi besar dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Resesi tidak semata-mata langsung mematikan UMKM, tapi efek domino dari resesi tersebut, salah satunya turunnya daya beli masyarakat sekalipun pemerintah sudah berusaha mengintervensi," kata Trissia kepada Sariagri.

Trissia menjelaskan bahwa UMKM berkontribusi 60,5 persen terhadap GDP Indonesia dan menyerap lebih dari 95%. Untuk itu, apabila resesi dunia terjadi, tentu UMKM dalam negeri harus didorong selalu berkompetitif dan berinovasi. Ia menerangkan, UMKM harus mampu bersaing dengan memberikan nilai tambah dan persaingan yang sempurna.

"Contohnya, adanya variasi produk untuk mencegah persaingan tidak sempurna. Tapi tentunya resesi sangat kompleks. Memerlukan intervensi yg kuat dari pemerintah. Hal lain yang bisa dilakukan, bahkan sebagai bentuk adaptasi terhadap pandemi, adalah dengan digitalisasi. Namun hal ini juga sangat perlu didukung oleh kesiapan konektivitas internet, infrastruktur pendukung dan literasi," terangnya.

Ke depan, lanjut Trissia, UMKM di Indonesia harus digitalisasi yang didukung dengan inklusivitas. Tercatat, dari 60 juta UMKM yang ada, hanya 13 juta yang sudah digitalisasi.

"Ini menandakan transformasi digital yang digadang membawa manfaat ekonomi besar, masih belum terealisasi secara maksimal," ucapnya.   

Total Data UMKM di Seluruh Indonesia

Data UMKM seluruh Indonesia. (Sariagri/Faisal Fadly)
Data UMKM seluruh Indonesia. (Sariagri/Faisal Fadly)

Kisah Pelaku UMKM yang Produknya Tembus Pasar Internasional

Daun kelor terstigma di masyarakat dekat dengan mistis, dimana tanaman ini bisa mengusir jin. Tak banyak bagi mereka melihat peluang dari Moringa oleifera-sebutan ilmiahnya kelor-, seperti Nasrin H Muhtar, pelaku UMKM asal Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Nasrin memanfaatkan kelor menjadi produk teh herbal lewat bahan baku batang, buah dan daun. Dengan kemasan yang menarik, ia memasarkan produknya yang Bernama Teh Kelor Moringa Kidom.

Awal mula perjalanannya, Nasrin sempat dianggap gila memanfaatkan kelor sebagai teh. Asa yang dimilikinya tak putus, apalagi mendengarkan perkataan orang, justru membuatnya tak akan maju.

"Di awal sih yang bilang gila nggak sedikit. Saya tanya 10 orang yang bilang gila 20 orang. Tapi buat saya tidak penting siapa yang bilang gila," kisah Nasrin kepada Sariagri.

Usaha tak menghianati hasil, kini produk teh kelor Moringa Kidom milik Nasrin tembus pasar internasional. Bahkan tercatat produknya telah dikirim lebih dari 30 negara.  

"Untuk pasar ekspor kita terus mengembangkan sudah hampir ke 30 negara. Meski beberapa produk itu hanya sampel atau uji coba, tapi ada beberapa negara yang sudah mulai membeli dalam jumlah banyak. Kemarin sudah kirim ke Belanda untuk uji coba, InsyaAllah Desember tahun ini mereka akan mulai repeat order. Kemudian Spanyol dan Jepang juga akan repeat order untuk produk kelor ini," tambah Nasrin.

Nasrin meyakini usahanya akan berhasil berdasarkan empat faktor pertimbangan. Pertama, setiap produksi yang berbasis kearifan lokal pasti akan bertahan dan mudah untuk diperkenalkan. Kedua, setiap produk yang berbahan baku dari pertanian pasti akan bertahan lama karena akan selalu dibutuhkan kapan pun. Ketiga, produk yang berbasis kesehatan akan selalu dibutuhkan. Keempat, keunikan produk.

"Produk kelor ini kan identik untuk mengusir jin. Hal seperti ini gampang sekali untuk kita promosikan," terangnya.

Nasrin Dapat Dukungan dari Pemerintah

Produk yang dihasilkan Nasrin tak hanya dalam bentuk minuman teh, tetapi ada beberapa varian produk seperti masker dan masker yang berbahan dasar kelor. Ia menjelaskan bahwa selama ini pemerintah dalam hal ini Kemenkop UKM selalu mendukung produk-produknya tersebut.

"Selama ini yang saya rasakan sederhana saja, mereka (Pemerintah) butuh mitra pengusaha yang betul-betul mampu untuk mengikuti apa yang menjadi program mereka. Artinya mereka selama ini sangat mendukung, selama kita sebagai pengusaha juga mendukung. Mereka butuh mitra untuk mengembangkan semua potensi yang kita miliki. Nah itulah yang kita support," tukasnya.

Pemerintah Gaungkan UMKM Go Digital

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menggaungkan basis data tunggal koperasi dan UMKM yang diberi nama Pendataan lengkap Koperasi dan UMKM 2022 atau PL-KUMKM 2022. Program ini diharapkan mampu menjadi basis data tunggal yang akurat, mutakhir, dan terpadu.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) Siti Azizah, mengungkapkan salah satu tujuan pelaksanaan PL-KUMKM 2022 adalah memperoleh informasi terkait penggunaan internet dalam kegiatan usaha (online) yang sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong pelaku UMKM onboarding ke ekosistem digital.

Kemenkop UKM mencatat hingga Agustus 2022 sudah 20,24 juta UMKM masuk ke dalam ekosistem digital atau 67,4% dari target 30 juta UMKM onboarding di 2024. Jumlah 20,24 juta merupakan 31,1% dari total UMKM.

"Untuk meningkatkan dan menumbuhkan jumlah pelaku UMKM Go Digital, pemerintah saat ini melakukan beberapa kebijakan, seperti pertama program bangga buatan Indonesia, yaitu kampanye kepada masyarakat luas untuk selalu bangga dan membeli produk lokal. Kedua, belanja Pengadaan Pemerintah dialokasikan 40 persen bagi pelaku UMKM. Ketiga, PADI BUMN, yaitu ekosistem platform digital yang mempertemukan UMKM dengan BUMN, sehingga memberi ruang dan peluang bagi UMKM untuk mendapatkan transaksi dari BUMN serta kesempatan dalam memperoleh pembiayaan dari BUMN," kata Siti kepada Sariagri, Jumat (25/11/2022).

Tantangan UMKM Ke Depan

Siti menyampaikan bahwa ekonomi digital Indonesia diprediksi akan menjadi yang terbesar di wilayah Asia Tenggara dengan nilai yang akan tumbuh dua kali lipat di tahun 2025. Dengan pelaku ekonomi digital sebagian besar berasal dari UMKM, maka Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM RI kini tengah mendorong UMKM untuk masuk dan terhubung ke dalam ekosistem digital, dengan target 30 juta UMKM pada tahun 2024.

"Kondisi saat ini, dimana perdagangan lintas negara sudah sangat massif, maka dampaknya adalah banyaknya produk luar, produk asing dan impor masuk ke dalam marketplace Tanah Air, serta menjadi kompetitor atau pesaing bagi produk yang dihasilkan pelaku UMKM lokal. Produk dan jasa UMKM lokal memerlukan standarisasi dan sertifikasi produk serta konsistensi kualitas dan kuantitas dalam skala ekonomi agar berdaya saing tinggi," katanya.

Siti menambahkan, pihaknya memberikan solusi mengatasi permasalahan dan tantangan yang dihadapi pelaku UMKM dalam menjalankan bisnisnya di ekosistem digital. Tidak hanya dengan memberikan pemahaman terkait literasi digital saja, memberikan pendampingan dan peningkatan kapasitas usaha serta memberikan pasar.

Selain itu, mengembangkan program untuk mengasah kreativitas dan inovasi melalui teknologi, serta mengembangkan jaringan reseller atau internet marketer yang akan menjadi jembatan bagi UMKM produsen dengan platform digital.

Pemerintah Dorong Wirausaha Muda jadi Pelaku UMKM

Adanya UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, pemerintah melakukan langkah konkrit dalam mendorong transformasi ekonomi, melalui reformasi regulasi dan mendorong kemudahan berusaha. Dalam UU Cipta Kerja, Pemerintah mendorong penciptaan lapangan pekerjaan dan juga mendorong masyarakat berwirausaha.

"Bagi para pelaku UMKM, manfaat yang diperoleh dari UU Cipta Kerja adalah berupa dukungan dalam bentuk kemudahan dan kepastian dalam proses perizinan melalui OSS (Online Single Submission). Pelaku UMKM juga diberikan kemudahan dalam mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), mendirikan Perseroan Terbuka (PT) perseorangan, hingga persyaratan yang dipermudah dan biaya yang murah," ucapnya.

"Contohnya adalah dalam pendirian PT tidak dibutuhkan akta notaris pendirian perusahaan, namun hanya memerlukan pernyataan-pernyataan perseroan yang dilakukan secara elektronik dan disahkan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Hal ini tentunya dapat mendorong adanya kepastian legalitas bagi pelaku UMKM," tambahnya.

Siti juga mengatakan bahwa UU Cipta Kerja juga memberikan kemudahan dalam pendirian koperasi, dengan menetapkan persyaratan minimal didirikan oleh 9 (sembilan) orang. Sebelumnya dalam UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian diatur bahwa syarat pendirian koperasi minimal beranggotakan 20 orang.

Jadi apakah resesi 2023 akan membuat Indonesia jatuh ke dalam jurang yang dalam? Sepertinya dengan diperkuatnya UMKM lewat program pemerintah, masalah ekonomi, angka pengangguran bisa teratasi. Dengan mencintai produk dalam negeri, resesi bisa jadi hanya angin lewat di musim semi.

 

Tim Laporan Khusus

Reporter: Rashif Usman

Grafis: Faisal Fadly 

Video Terkait



Baca Juga: Laporan Khusus: Muncul Resesi Dunia, Bangkitlah UMKM Indonesia
UMKM Miliki 4 Tantangan dalam Digitalisasi, Apa Itu?