Minyak Sawit RI Tak Bisa Masuk Uni Eropa, Ini Reaksi Pengusaha

Tandan buah segar kelapa sawit milik petani di Kecamatan Air Manjuto, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu. (Antara/Ferri)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 26 Januari 2023 | 10:00 WIB

Sariagri - Pengusaha kelapa sawit bereaksi soal aturan Uni Eropa dalam Undang-undang Produk Bebas Deforestasi yang melarang masuknya minyak sawit Indonesia. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan pihaknya tidak cemas sama sekali atas aturan tersebut.

Ia meyakini pasar sawit akan terus tumbuh karena saat ini banyak industri membutuhkan minyak sawit.

“Pasar sawit itu akan tetap tumbuh karena ini kan basic need ya untuk makan, energi, industri. Jadi Indonesia ketakutan kehilangan Eropa? Tidak! Karena pasar yang lain akan terus tumbuh dengan baik,” ujar Joko Supriyono.

Menurut Joko, Indonesia seharusnya fokus untuk memperjuangkan masuknya sawit dalam perdagangan global karena kuota impor sawit dari negara-negara lain mengalami tren peningkatan.

Dia menyebut ada 10 negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia yakni China, India, Amerika Serikat (AS), Pakistan, Malaysia, Belanda, Bangladesh, Mesir, Rusia dan Italia. Bahkan, kebutuhan AS kini meningkat sangat tajam.

“AS sudah 2 juta lebih, padahal dulu cuma 400.000-an,” terang Joko.

Sementara itu, Direktur Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga juga menekankan hal serupa. Ia mengatakan bahwa Indonesia tidak akan kehilangan pasar untuk sawit. Menurutnya, hal itu karena minyak sawit Indonesia tidak bisa ditiru oleh minyak yang lain.

"Biarin saja. Palm oil punya spefikasi tertentu yang tidak bisa ditiru minyak lain. Cokelat saja itu cuma pake minyak sawit dia tidak bisa kerek market share 65 persen ditargetkan di dalam negeri harus diusahakan,"paparnya.

Baca Juga: Minyak Sawit RI Tak Bisa Masuk Uni Eropa, Ini Reaksi Pengusaha
Jokowi Akan Hentikan Ekspor CPO, Ini Alasannya?

Lantas Sahat berharap agar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) segera membuat regulasi yang tepat terkait perusahan-perusahan yang membuka pabrik di Indonesia. Dengan begitu, niscaya industri sawit dalam negeri akan tetap gagah meski diterpa larangan-larangan negara global.

"Kalau pabrik turunan sawit pindah sini diberi insentif. Sehingga produk hilir hdup dan nilai tambahnya tinggi. Jadi percayalah jangan terlalu khawatir dengan Uni Eropa. Kita tingkatkan saja produktifitas," tandasnya.