5 Negara Produsen Kedelai Terbesar Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?

Berita Pangan - Ilustrasi kacang kedelai (Pixabay)

Penulis: Dera, Editor: Reza P - Rabu, 6 Januari 2021 | 06:00 WIB

SariAgri - Kebutuhan masyarakat dunia akan kedelai tiap tahun terus meningkat, tak terkecuali dengan Indonesia. Tingginya kebutuhan ini mau tak mau menempatkan kedelai sebagai komoditas cukup penting dalam percaturan perdagangan internasional.

Ironisnya, di tengah tingginya kebutuhan masyarakat akan kedelai, produksi kedelai di Indonesia terus mengalami penyusutan.

Lalu, negara mana saja yang sebenarnya paling banyak menghasilkan kedelai? Berikut ulasannya berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2017.

Saat ini, Amerika Serikat tercatat sebagai negara penghasil sekaligus produsen kedelai terbesar di dunia. Berdasarkan data dari FAO tahun 2017, menunjukkan bahwa jumlah produksi kedelai (soybean) Amerika Serikat mencapai 119,518,490 ton.

Produksi kedelai Amerika Serikat sebagian besar, atau sekitar 60 persen dari total produksi kedelai negeri Paman Sam tersebut, diserap China. Rata-rata per tahun, nilai ekspor kedelai AS ke Cina mencapai sekitar US$20 miliar.

Sementara, urutan kedua negara penghasil kedelai dipegang Brasil dengan jumlah produksi sekitar 114,599,168 ton. Produksi kedua negara menguasai hampir 60 persen total produksi kedelai dunia.

Untuk urutan ketiga terbesar produsen kedelai dunia adalah Argentina dengan jumlah produksi sebanyak 54,971,626 ton, sedangkan urutan terbesar keempat ditempati Cina dengan total produksi mencapai ton 13,149,485. Sementara menduduki peringkat kelima adalah India, dengan total produksi kedelai per tahun sebesar rata-rata 10,981,000 ton.

Untuk negara pengimpor kedelai, Indonesia masuk dalam daftar negara dengan jumlah impor tertinggi kedua setelah Ciina.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS atau sekitar Rp7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari AS.

Menurut data Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo), selain dari Amerika Serikat, kedelai yang dipasok untuk para pengusaha tahu dan tempe sebagian besar dipasok dari Brasil, Kanada dan Uruguay.

Dari total volume impor itu, sebanyak 70 persen di antaranya dialokasikan untuk produksi tempe, sementara 25 persen untuk produksi tahu dan sisanya untuk produk lain.

Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia selama ini memang masih bergantung dari kedelai ekspor. Hal ini akibat besarnya kebutuhan tidak sebanding dengan kemampuan produksi kedelai.

Baca Juga: 5 Negara Produsen Kedelai Terbesar Dunia, Bagaimana dengan Indonesia?
Harga Kedelai Dunia Naik Bagaimana Nasib Tempe Tahu? Ini Kata Kemendag

Seperti diketahui, rata-rata kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,8 juta ton per tahun. Sementara kemampuan produksi kedelai jauh di bawah angka tersebut. Tingkat produksi kedelai di Indonesia bahkan terus menyusut dari tahun ke tahun, hingga berada di bawah level 800.000 ton per tahun.

Pada tahun 2020 saja, produksi kedelai diperkirakan berkisar 320.000 ton atau lebih rendah dibandingkan produksi tahun 2019 yang mencapai 420.000 ton. Dalam nota keuangan tahun anggaran 2021, pemerintah menargetkan produksi kedelai 420.000 ton pada tahun 2021. Tak heran, di tengah tingginya kebutuhan dan terus merosotnya produksi, harga kedelai terus mengalami lonjakan.

Video Terkait