Kurangi Impor, Jadikan Kedelai Komoditas yang Untungkan Petani

Ketua Umum Pemuda Tani HKTI, Rina Saadah

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Jumat, 8 Januari 2021 | 13:30 WIB

SariAgri - Kompleksitas masalah kedelai nasional sejatinya bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Pertanian tetapi juga stakeholder lainnya, seperti Kementerian Perdagangan, BUMN saprodi pertanian, maupun Bulog.

Untuk itu, kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, Perum Bulog, pelaku usaha, importir, industri pengguna kedelai menjadi keharusan, memberikan kontribusi sesuai tupoksinya untuk mewujudkan swasembada kedelai pada 2024.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Rina Saadah dalam diskusi terbatas tentang pertanian seperti keterangan yang diterima Sariagri,id, Jumat (8/1/2021).

“Harus ada kebijakan pasar. Pasalnya, petani enggan menanam kedelai karena tidak ada insentif, sementara harga jualnya tak mampu menutup ongkos produksi. Langkah strategisnya adalah membuat kedelai menjadi komoditas yang menguntungkan bagi petani,” ujar Rina.

Menurutnya, pemerintah tidak perlu gentar untuk melindungi petani karena di negara lain, pemerintahnya juga melindungi petani maupun produk pertaniannya. Negara Brazil mampu swasembada kedelai juga karena didukung kebijakan pemerintahnya dalam menciptakan pasar yang baik. Apalagi didukung dengan peningkatan produktivitas minimal 2 ton per hektare akan dapat meningkatkan keunggulan komparatif kedelai.

“Pemerintah juga perlu mengevaluasi kembali bea masuk 0 persen impor kedelai sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 133 Tahun 2013, yang berlaku sejak 8 Oktober 2013. Bahkan, perlu juga membuat kreasi efisiensi produksi dengan menggunakan inovasi,” papar Rina.

Rina mengungkapkan ada banyak varietas unggul kedelai yang dihasilkan Badan Litbang Kementerian Pertanian yang sebenarnya tidak kalah kualitasnya dengan kedelai impor, dengan ciri ukuran biji yang besar, warna kuning, potensi hasil lebih 2 ton per ha, umur panen lebih cepat maupun keunggulan lainnya.

“Tinggal upaya selanjutnya adalah membangun sistem perbenihan kedelai agar ketersediaan varietas yang dimaksud terjaga sepanjang musim tanam. Hasil penelitian LIPI juga bisa digunakan untuk memaksimalkan produksi kedelai lokal,” papar dia.

Rina menambahkan, dalam jangka pendek, pemerintah segera melakukan operasi pasar guna menurunkan dan menstabilkan harga. Sementara jangka panjang, pemerintah harus menggenjot berswasembada kedelai.

Baca Juga: Kurangi Impor, Jadikan Kedelai Komoditas yang Untungkan Petani
Manfaatkan Lahan Kering Beriklim Kering untuk Tingkatkan Produksi Kedelai

“Perluasan areal tanam melalui: pemanfaatan dan pencetakan lahan baru sebesar 1 juta ha, peningkatan indeks pertanaman (IP), dan penerapan pola  tumpangsari. Saat yang sama harus ada perbaikan data khususnya lahan per areal tanam yang eksisting,” katanya.

Berikutnya, imbuh Rina, peningkatan produktivitas, melalui penyediaan benih unggul, subsidi dan penyediaan pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian, peralatan pascapanen, penerapan adaptasi, dan mitigasi perubahan iklim.

Video Terkait