China Naikkan Tarif, Petani Gandum Australia Beralih ke Arab Saudi

Ilustrasi gandum (Pixabay)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Senin, 15 Maret 2021 | 11:30 WIB

SariAgri - Petani gandum Australia telah memindahkan pasarnya dari China ke Arab Saudi. Hal ini dilakukan karena kebijakan tarif China yang naik, sementara produksi gandum Australia sedang mengalami panen besar.

Sejumlah media pada Senin (15/3) melaporkan, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Australia berhasil menembus pasar Arab Saudi, mengalahkan persaingan ketat dari pemasok lain.

Ahli pertanian dari Thomas Elder Markets, Andrew Whitelaw mengatakan terdapat tanda-tanda bahwa penjualan ke Arab Saudi akan berlanjut setidaknya hingga pertengahan tahun

"Kami kehilangan (pasar) China. Tetapi, Arab Saudi sedang bersiap untuk menjadi pelanggan terbesar Australia musim ini. Jika Anda melihat tiga tender terakhir berturut-turut, kami mendapat bagian terbesar dari itu. Dalam hal volume ke Arab Saudi, kami mendapatkan lebih dari siapa pun,” ujarnya.

Dalam hasil tender yang diumumkan minggu lalu, Australia akan menyediakan sebagian besar pembelian 660 ribu ton, menggeser pemasok tradisional dari Uni Eropa dan Laut Hitam.

Data perdagangan Australia menunjukkan nilai ekspor ke Arab Saudi jauh melebihi setiap tujuan lainnya pada bulan Desember. Arab Saudi dan China berkejar-kejaran sebagai importir serealia teratas, dengan Saudi berada di depan dalam dua tahun terakhir dan China memiliki keunggulan tahun ini, menurut data dari Departemen Pertanian AS.

Kerajaan Arab Saudi menggunakan sebagian besar biji-bijian serealia sebagai pakan domba, unta, dan kambing.

Penjualan tersebut merupakan perubahan signifikan bagi petani di Australia, yang terpukul tahun lalu oleh meningkatnya ketegangan politik dengan China. Ketegangan politik ini mendorong Beijing untuk memberlakukan tarif anti-dumping lebih dari 80 persen pada biji-bijian serealia asal Australia sebagai tindakan pembalasan.

Lonjakan harga pangan global ke level tertinggi dalam lebih dari enam tahun telah mengangkat penjualan gandum Australia. “Hanya ada jumlah biji-bijian yang terbatas, jadi ketika China menyerap banyak permintaan, itu berarti negara lain akan membeli produk alternatif, misalnya gandum daripada jagung,” kata Whitelaw.

Petani Australia mengalami panen yang hampir mencapai rekor musim ini karena hujan meningkatkan hasil panen. Dengan ekspektasi untuk musim depan yang juga cenderung menguntungkan, penjualan ke pasar baru merupakan kabar gembira.

Baca Juga: China Naikkan Tarif, Petani Gandum Australia Beralih ke Arab Saudi
Harga Cabai di Pasar Surabaya Tembus Rp110 Ribu, Diduga Faktor Panen Anjlok

Meksiko menjadi pembeli pertama gandum Australia pada Januari, sementara penjualan ke Thailand dan Vietnam melonjak. Ada tanda-tanda ketertarikan yang baru muncul dari pembeli India setelah pemerintah menghapus pembatasan fitosanias.

Pada awal Februari, Kementerian Perdagangan AS memperkirakan impor biji-bijian sebesar 6,2 juta ton pada tahun 2020-2021, sekitar 23 persen di bawah perkiraan resmi terbaru.

Video Terkait