Lika Liku Lada Muntok Menembus Pasar Dunia

Lada Putih (Pixabay/congerdesign )

Penulis: Andry, Editor: Reza P - Jumat, 2 April 2021 | 16:40 WIB

SariAgri - Cita rasa yang khas dari lada putih produksi Muntok ternyata menjadi daya tarik yang mendalam bagi beberapa negara di dunia. Produk lada putih dari Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ini telah di ekspor ke berbagai belahan untuk memenuhi 40% kebutuhan lada di dunia. 

Lada putih Babel memiliki cita rasa rempah berkualitas tinggi yang sangat diminati oleh konsumen dunia, karena memiliki piperin (tingkat kepedasan) yang tinggi (5-7) dan aroma minyak atsiri yang tajam. Harga lada bangka hingga kini telah menyentuh harga Rp105.000 per kilogramnya.

Untuk menjaga kualitas, sejak Desember 2019 lalu Muntok White Pepper (MWP) telah didaftarkan Indikasi Geografisnya (IG). Dengan begitu, lada yang ada pada label MWP dipastikan sebagai lada yang berasal dari tanah perkebunan petani Babel. Untuk selanjutnya, IG-MWP ini perlu didaftarkan ke berbagai negara, agar MWP terus diawasi baik peredaran maupun kualitas produknya.

Meski begitu, sayangnya  MWP tidak begitu dikenal oleh dunia, karena pada produk lada Bangka yang dijual pada pasar dunia, tidak menyebutkan asal produk. Sehingga, hingga saat ini mereka belum mengetahui asal produk yang dikonsumsinya. Berbeda dengan Verstegen, perusahaan importir lada dan rempah terbesar Eropa, mereka  telah memasarkan produk menggunakan nama IG-MWP.

Gubernur Erzaldi bersama Direktur Utama BUMD PT. BBBS (Bangka Belitung Bumi Sejahtera) Saparudin, Kepala Dinas pertanian Juaidi, Ketua Badan Pengelola Pengembangan dan Pemasaran Lada Rafki, melakukan pertemuan dengan Marienne Van Keep dan Evert Jan-Verschuren yang merupakan perwakilan dari Verstegen Company. Verstegen sendiri membeli produk Muntok White Pepper dari PT Citra Agro Nusantara (CAN).

Marienne mengaku sebenarnya penduduk Eropa tidak memilih lada secara khusus dari daerah Babel. Mereka tidak merasa hal ini spesial. Ketika tidak ada lada dari Indonesia, mereka juga tidak akan keberatan untuk mengonsumsi lada dari Vietnam.

“Kami telah berusaha  melabelkan produk dengan nama Muntok White Pepper, tapi saya tidak bisa mempengaruhi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Saya setuju, bahwa di masa lampau, Muntok White Pepper adalah nama yang penting bagi semua orang. Namun sekarang, sudah tidak ada yang mengetahui kecuali kolega saya yang kurang lebih 500 orang. Mereka sangat mengenal Muntok White Pepper. Tapi orang biasa kini sudah tidak mengenalnya lagi,” ungkap Marienne.

Bubuk merica asal muntok (commons.wikimedia.or/Taman Renyah)
Bubuk merica asal muntok (commons.wikimedia.or/Taman Renyah)

Diketahui saat ini kontrol atas distribusi dan harga lada di Bangka Belitung telah diatur. Karenanya, Gubernur Erzaldi terus menguatkan pemasaran. Selama ini perusahaan Verstegen juga memberi banyak investasi bagi petani melalui PT CAN. Hal yang pernah dilakukannya antara lain melakukan pengembangan, mengontrol kualitas, pelatihan-pelatihan dan lain sebagainya.

“Ini agak rumit, saya pikir masih ada ruang untuk bekerja sama dengan pemerintah agar kita bisa mendukung proyek ini. Untuk sementara, kita bisa melakukan promosi, kami sudah menuliskannya di website dan sosial media meski dampaknya terbatas,” ungkap Evert.

Baca Juga: Lika Liku Lada Muntok Menembus Pasar Dunia
63,78 Ton Rempah Asal Sulteng Diekspor ke Vietnam dan Cina

Verstegen sendiri merupakan perusahaan yang sangat peduli terhadap petani. Mereka rela berinvestasi dengan uang perusahaan untuk membantu petani di seluruh dunia. Momen ini menjadi kesempatan berharga. Bantuan yang diberikan sebelumnya oleh Verstegen hanya dapat dirasakan sebagian kecil petani, karena melalui Eksportir PT CAN.

Sebagai Pemerintah, Gubernur Erzaldi akan membangun hubungan baik, agar Verstegen mau membantu mengembangkan petani bukan hanya yang ada pada PT CAN saja, tapi petani di seluruh Babel.

Video Terkait