Terkuak Penyebab Harga Kedelai Melejit Tajam

Kepala KPPU Kantor Wilayah I Medan, Ramli Simanjuntak saat meninjau di gudang kedelai. (Foto: ANTARA)

Editor: M Kautsar - Kamis, 3 Juni 2021 | 15:50 WIB

SariAgri - Melejitnya harga bahan baku kedelai impor dikeluhkan para perajin tahu di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Lonjakan harga kedelai impor yang terjadi sejak pertengahan Mei lalu, dirasa sangat memberatkan perajin tahu.

Saat Ramadan, harga kedelai impor masih dikisaran Rp7.500 per kilogram. Namun memasuki lebaran terus merangkak naik hingga sekarang tembus di angka Rp10.750 per kilogram. 

Akibatnya, perajin mulai memutar otak agar produksinya bisa tetap bertahan di tengah mahalnya harga bahan baku kedelai impor. Selain dengan cara menurunkan jumlah produksi sebesar 20 persen, perajin juga terpaksa mengurangi ukuran tahu menjadi lebih kecil dari biasanya. 

“Demi bisa bernafas, kami terpaksa menekan produksi atau turun sekitar 20 persen. Cara lainya yaitu terpaksa kami tempuh yaitu mengurangi ukuran tahu. Kami minta maaf kepada pelanggan, karena hanya dengan cara ini usaha kami tetap bisa bertahan,” kata salah seorang perajin tahu di Kecamatan Krian, Munir kepada Sariagri, Kamis (3/6).

Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Ketua Gabungan Koperasi Produsen tempe tahu (Puskopti) Jawa Timur, Sukari mengatakan para perajin tempe tahu selama ini menggunakan bahan baku kedelai impor dari Amerika, Brasil dan Argentina. 

Lonjakan harga kedelai impor ini terjadi akibat cuaca buruk di negara-negara penghasil kedelai. Selain itu naiknya harga kedelai impor akibat isu negara tiongkok yang secara masif melakukan impor kedelai dari ketiga negara tersebut.

“Lonjakan ini terjadi karena kedelai merupakan komoditi internasional. Semua negara butuh kedelai termasuk Tiongkok yang juga ramai-ramai memborong kedelai asal Amerika, Brasil dan Argentina. Akibatnya pasokan ke Indonesia turun dan harganya melambung tajam, “ urai Sukari.

Selain itu, imbuh Sukari, ada dua penyebab lainnya yang turut mempengaruhi harga kedelai impor melejit yaitu patokan harga Chicago Board of Trade (CBOT) yang dipakai sebagai ukuran  perdagangan internasional serta tidak stabilnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar. 

“CBOT ini menjadi patokan harga trading internasional semacam yang ada di bursa saham, sehingga harga kedelai naik. Berikutnya nilai tukar rupiah kita yang melemah membuat harga kedelai langsung melejit,“ pungkasnya.

Video Terkait