Ironis, Dulu Belanda Datang karena Rempah-rempah, Kini RI Malah Impor Lada dan Cengkeh

Ilustrasi Tanaman Lada. (Unsplash/ Tony Pham)

Penulis: Yoyok, Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 18 Agustus 2021 | 14:20 WIB

Sariagri - Sebagai penghasil rempah-rempah, keberadaan Indonesia menjadi penting bagi bangsa Eropa, seperti halnya Belanda. Bahkan, perusahaan Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), memonopoli perdagangan rempah agar tak dikuasai bangsa lain, seperti Portugis, Inggris, dan Spanyol.

Saat itu, Indonesia dikenal sebagi produsen rempah-rempah yang berkualitas tinggi, di antaranya lada, kayu manis, pala, vanila, cengkeh, kunyit, dan jahe. Namun, Indonesia kini malah menjadi konsumen rempah-rempah itu. Ironinya, sebagian besar rempah itu berasal dari luar negeri alias impor.

Malah, cengkeh dan lada yang semula menjadi andalan produksi Indonesia, kini harus membeli dari negara lain. Teringatlah cerita tentang cengkeh Indonesia yang dibakar dan ditebang hanya karena akan masuk cengkeh dari Afrika.  Demikian juga cerita lada Bangka yang dikenal berkualitas tinggi tapi tak mendapatkan perhatian pemerintah sehingga tak menjadi andalan komoditas ekspor.

“Kini, cengkeh dan lada Indonesia bagaikan cerita masa lalu semata. Tak ada upaya pemerintah untuk mengembalilan kejayaannya. Hanya alasan, alasan saja,” kata pemerhati sosial ekonomi dari Kaukus Muda Indonesia, Edi Humaidi, saat dihubungi, Rabu (18/8).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan sepanjang Januari-Juni 2021, Indonesia telah mengimpor lada sebanyak 183,55 ton atau menurun 28,1 persen dari volume impor pada tahun lalu yang mencapai 255,43 ton.

Adapun negara pengekspor lada ke Indonesia di antaranya Vietnam, Thailand, Australia, Malaysia dan negara lainnya.  Nilai impor lada sepanjang Semester I-2021 tersebut mencapai 895.541 dolar AS, angka ini naik 3,3 persen dibandingkan dengan nilai impor pada Januari-Juni 20220 yang sebesar 867.114 dolar AS.

Sedangkan cengkeh diimpor dari Madagaskar, Singapura, dan Inggris. Sepanjang Januari-Juni 2021, volume impor cengkeh mencapai 2.818 ton, volume tersebut meningkat 12,2 persen jika dibandingkan volume impor pada tahun lalu yang sebesar 2.511,2 ton. Adapun nilai impor cengkeh pada Semester I-2021 mencapai 15,28 juta dolar AS atau naik 27 persen jika dibandingkan dengan nilai impor Januari-Juni 2020 yang sebesar 12,03 juta dolar AS.

Produksi Lada Rendah

Memang tak semudah dibayangkan. Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian mencatat, produktivitas lada Indonesia hanya tumbuh rata-rata 0,03 persen per tahun selama dua dekade, hingga tahun 1990. Lalu, meningkat 2,5 persen per tahun pada kurun 2010-2014 menjadi 824 kilogram per hektare. Namun, angka itu masih jauh dari potensi produksi varietas-varietas lada unggul, yakni 1.970-4.480 kilogram per hektare.

Baca Juga: Ironis, Dulu Belanda Datang karena Rempah-rempah, Kini RI Malah Impor Lada dan Cengkeh
Volume Ekspor Komuditas Unggulan Biji Kopi dan Lada Terus Naik

Sejumlah peneliti menyebutkan, rendahnya produktivitas lada Indonesia antara lain dipicu oleh serangan busuk pangkal batang (BPB), penyakit yang paling ditakuti petani karena dampaknya. Kehilangan hasil akibat BPB diperkirakan sebesar 20-30 persen.

Berdasarkan literasi, penyakit BPB menyebabkan banyak tanaman lada mati pada 1953-1956 sehingga Indonesia hanya mampu memenuhi 2/3 kebutuhan dunia. Padahal, sebelum Perang Dunia II, wilayah Nusantara merupakan penghasil lada terbesar yang mampu memenuhi 80 persen kebutuhan dunia.

Video Terkait