Sempat Anjlok, Pasar Online Dorong Penjualan Mutiara di Lombok

Perhiasan Mutiara Milik Pelaku Usaha Mutiara di Kelurahan Sekarbela Mataram, NTB. (Sariagri/Yongki)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Kamis, 30 September 2021 | 19:20 WIB

Sariagri -  Dunia digital yang semakin berkembang membuat orang beramai-ramai memilih berbelanja di toko online, karena dinilai lebih praktis dan cepat, sekaligus mudah untuk diakses oleh para konsumen. Tidak heran jika sebagian besar pengusaha memilih untuk menjual produk mereka melalui media digital.

Seperti para pengusaha Mutiara di Kelurahan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) Misalnya, yang sejak pandemi ini berupaya untuk mengoptimalkan pemasaran melalui online.

Jual beli mutiara secara online pun dirasa para pelaku usaha cukup menumbuhkan penjualan mutiara Lombok yang sempat anjlok sejak dilanda pandemi COVID-19. Sejumlah pesanan dari dalam maupun luar NTB secara online sejak 6 bulan terakhir membuat para penjual mutiara bergeliat kembali.

Ketua Asosiasi Pedagang dan Perajin Mutiara Lombok, H. Fauzi saat dikonfirmasi Sariagri menjelaskan, penjualan mutiara selama pandemi ini mengalami penurunan hingga 50 persen, namun, setelah para pelaku ukm mutiara memanfaatkan media digital, pemasarannya mulai menggeliat.

Sebelumnya diakui Fauzi, para penjual Mutiara hanya bisa menanfaatkan kunjungan wisatawan untuk memasarkan produk mereka, namun karena adanya pasar online setidaknya mereka bisa cukup terbantu.

"Memang sekarang ini kan sedang di galakan untuk penjualan online, tapi ada beberapa juga yang istilahnya tidak bisa mengakses media online hanya bisa mengandalkan tamu atau wisatawan yang datang," terangnya. 30/9/2021.

Fauzi yang juga merupakan pelaku usaha mutiara itu mengatakan, dengan hidupnya pasar digital penjualan mutiara sudah tumbuh 40 persen, walaupun masih sulit kembali seperti sebelum pandemi dan gempa pada 2018 lalu.

"Sekarang ini alhamdulillah sudah mulai kelihatan peningkatannya mencapai 40 persen untuk omset penjualan rata-rata dari para pelaku usaha baik melalui online maupun offline," katanya.

Sekarang ini para pelaku usaha mutiara bisa mengirim ke luar daerah bahkan sampai ke luar negeri, seperti china, jepang dan eropa dan ke luar daerah sampai 20 kali per bulan, dengan omset per bulan rata-rata Rp30 juta.

Diterangkan Fauzi meski penjualan terbilang masih dibawah normal, namun beberapa dari anggota asosiasinya juga mampu mengirim lebih dari jumlah yang diperkirakan.

"Memang sih beberapa dari para pelaku usaha kita juga ada yang justru peningkatannya itu luar biasa secara online di masa pandemi sekarang ini, yang biasanya tidak begitu lancar namun di musim pandemi malah jadi peluang bagi mereka," paparnya.

Senada dengan itu, Risma salah seorang pengusaha mutiara di Sekarbela menuturkan kunjungan tamu ke toko penjualan mutiara saat ini sudah mulai ada walaupun masih jauh dari kata ideal.

Adapun tamu yang datang hanya sebatas dari wisatawan domestik, mulai dari Bali, Jawa, dan Jakarta. Kendati demikian, omset penjualannya terbilang masih cukup normal karena pihaknya masih bisa memasarkan mutiara secara online melalui marketpalace facebook maupun instagram.

"Kalau tamu luar ada beberapa yang datang, cuman dari luar daerah kita saja, belum ada yang dari luar negeri, biasanya kita menutupi itu dengan menjual melalui media sosial," ujar Risma.

Sejauh ini menurut Risma, penjualannya cukup menurun drastis namun ada saja pembeli dari luar daerah yang memesan. Padahal, dalam kondisi normal, pihaknya mampu menjual mutiara mencapai Rp 100 Juta Perhari.

"Alhamdulillah ya, meskipun sepi tapi ada saja yang pesan," imbuhnya.

Pihaknya berharap agar pandemi ini bisa segera berlalu dan sektor pariwisata segera dibuka kembali untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Lombok.

Baca Juga: Sempat Anjlok, Pasar Online Dorong Penjualan Mutiara di Lombok
Genjot Bisnis KPR, Bank Mandiri Gelar Pameran Properti Online



"Kita semua sama-sama berharap agar kondisi ini bisa normal seperti sedia kala," tutupnya.

Video Terkait