Harga Minyak Goreng Masih Meroket, Industri Kerupuk di Lombok Terancam Gulung Tikar

Industri Kerupuk Beras Terancam Merugi Akibat Kenaikan Harga Minyak Goreng. (Sariagri/yongki)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 24 November 2021 | 17:50 WIB

Sariagri -  Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) melambung sejak 2 pekan terakhir, akibatnya sejumlah pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) yang memproduksi kerupuk beras menjerit, karena terancam merugi.

Pasalnya, kebutuhan Minyak goreng sangat diperlukan para IKM untuk menggoreng produk mereka agar bisa dijual. Ramli, salah seorang pemilik industri kerupuk beras di Lombok barat mengaku kesulitan memesan minyak goreng kemasan, selain itu, harga minyak goreng yang ia beli meningkat signifikan. Sementara itu kebutuhan minyak yang ia harus penuhi beriksar dari 18 Liter hingga 20 Liter.

"Masalahnya ini barangnya langka sekarang yang minyak kemasan, selain itu malah harganya mahal," kata Ramli kepada Sariagri, Rabu (24/11/2021).

Selain mengalami penurunan hasil produksi, Ramli dan para pelaku industri kerupuk lainnya mengaku terancam gulung tikar, akibat pendapatan mereka yang anjlok karena mahalnya harga minyak.

Jika sebelumnya para pelaku IKM membeli minyak goreng seharga Rp 12 ribu per liternya, kini merangkak naik menjadi Rp 17 ribu per liternya.

"Kenaikan ini terjadi sudah lama, biasanya saya membeli seharga Rp 220 Ribu per 18 Liter, kini naik menjadi Rp 310 Ribu perliternya," ucap Ramli.

Untuk meminimalisir kerugian, Ramli terpaksa mengganti jenis minyak yang sebelumnya memakai minyak goreng kemasan kini menggunakan minyak curah.

Meski harganya sama-sama naik, penggunaan minyak curah lebih efektif karena total harganya yang lebih murah ketimbang minyak kemasan, walau kualitas kerupuknya menurun jika menggunakan minyak curah.

"Kalau kita lihat memang menurun kualitasnya, namun apa boleh buat, hanya itu solusi yang bisa kita lakulan," ujarnya.

Sementara itu, sejumlah pedagang minyak dipasaran mengaku, melonjaknya harga diakibatkan oleh kurangnya persediaan minyak dari distributor, sejak 2 pekan terakhir.

"Kalau kita ngambil di distributor itu terbatas sekarang, dan harganya beda dari sebelumnya, mungkin itu penyebannya harga minyak naik," kata Handayani, salah seorang penjual Minyak kemasan di Pasar Tradisional Kota Mataram.

Dikatakan Handayani, kenaikan harga minyak cukup berpengaruh terhadap para konsumen yang datang untuk membeli. Saat ini pembeli minyak hanya di dominasi oleh kalangan ibu rumah tangga.

"Berpengaruh juga sih, karena sekarang para pembuat gorengan sudah jarang datang membeli, palingan hanya ibu rumah tangga saja untuk kebutuhan memasak di dapur," akunya.

Tingginya harga minyak goreng diharapkan para pedagang dan pelaku industri kerupuk agar bisa segera stabil, agar ekonomi para ikm bisa pulih ditengah pandemi.

Baca Juga: Harga Minyak Goreng Masih Meroket, Industri Kerupuk di Lombok Terancam Gulung Tikar
Harga Minyak Goreng Naik, Ternyata Ini Penyebabnya



"Kami harapkan pemerintah ini turun ke pasar agar tau harga minyak berapa, karena jika terus-terusan begini pembeli kita malah kabur," tutupnya.

Video Terkait