Di Natuna Memanas, China-RI Malah Sepakat Kerja Sama Migas Rp21,6 Triliun

Aksi kejar-kejaran penangkapan kapal ikan asing ilegal berbendera Vietnam di Laut Natuna Utara pada Selasa (27/4).

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Jumat, 3 Desember 2021 | 19:20 WIB

Sariagri - Saat pemerintah China menuntut Indonesia untuk menghentikan kegiatan pengeboran minyak dan gas alam di wilayah perairan Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau, pengusaha di dua negara itu malah menjalin kerja sama bisnis pengeboran minyak lepas pantai senilai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,6 triliun.

Nantinya, para pengusaha itu mengembangkan megaproyek injeksi kimia dan teknologi digital untuk industri minyak dan gas di Indonesia.

Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, mengungkapkan penandatanganan kerja sama tiga perusahaan besar swasta itu dilakukan di Beijing pada Kamis (2/12).

"Jadi ini proyek 'B to B' (antarperusahaan swasta). Perusahaan China akan mentransfer teknologi dan investasi modal,” ujar Dubes Djauhari.

Proyek injeksi kimia dan teknologi digital bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak di ladang minyak yang sudah berumur. Itu artinya, dengan diberikan injeksi kimia, sumur-sumur minyak yang sudah tua seperti di Blok Rokan bisa direvitalisasi dan ditingkatkan kapasitas produksinya.

"Proyek ini tergolong investasi yang memberikan nilai tambah," kata Dubes Djauhari.

Diketahui, China protes kepada Indonesia terkait dengan aktivitas pengeboran minyak dan gas di lepas pantai Laut Natuna Utara yang diklaim sebagai wilayah China di perairan Laut China Selatan.

Sebelumnya, China juga bereaksi atas latihan tempur bertajuk "Garuda Shield" yang dilakukan TNI AD bersama militer Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2021 lalu.

Anggota Komisi I DPR RI, Muhammad Farhan, mengungkapkan protes diplomatik China disampaikan pada Kementerian Luar Negeri. Isinya, mendorong agenda nine-dash line atau garis putus-putus berbentuk huruf "U" di Laut China Selatan, yang diklaim China sebagai wilayahnya.

Baca Juga: Di Natuna Memanas, China-RI Malah Sepakat Kerja Sama Migas Rp21,6 Triliun
Wow! Pertamina Temukan Cadangan Minyak Bumi di Jakarta, Di Sini Lokasinya

Padahal, klaim China itu telah diputus tak memiliki dasar hukum oleh Pengadilan Arbitrase Permanen di Den Haag, Belanda, pada 2016.

"Surat itu sedikit mengancam. Tapi, kami tegas, tidak akan menghentikan pengeboran karena itu adalah hak kedaulatan kami," kata Farhan.

Video Terkait