Harga Telur, Cabai, dan Daging Ayam di Jatim Masih Tinggi, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan

Penjual cabai di pasar tradisional di Kota Malang, Jawa Timur. (Foto Sariagri/Arief L)

Editor: M Kautsar - Selasa, 4 Januari 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Perayaan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 baru saja dilewati, namun pada awal tahun ini harga kebutuhan pokok di beberapa wilayah cenderung semakin mahal. Tak terkecuali di pasar tradisional di Jawa Timur.

Kondisi tersebut berimbas pada turunnya permintaan barang dan penjualan pedagang. Seperti yang terpantau di pasar besar Kota Malang, Jawa Timur, harga telur ayam yang semula jelang natal dijual Rp16.000 per kilogram (kg), kini di awal tahun 2022 telah tembus Rp31.000 per kg.

Pedagang tidak mengetahui pasti penyebab meroketnya harga telur. Meski pasokan di sejumlah agen telur terus berdatangan.

"Katanya pasokan di tingkat peternak aman bahkan produksi berlebih, tapi kenapa harganya bisa terus naik dan kian tak terkendali. Demikian pula stok dipasar juga tidak mengalami kelangkaan,” keluh salah seorang pedagang, Sulis kepada Sariagri, Selasa (4/1).

Akibatnya pedagang pun bermain hati-hati, dengan tidak menyimpan barang dagangan dalam partai besar.  Pedagang memilih berjualan aman, dengan tidak menyimpan stok berlebih dan cenderung mengurangi pasokan. 

"Telur saya tidak berani ambil banyak karena kalau numpuk dan tidak segera laku bisa cepat rusak. Ini terpaksa saya ngurangi jatah pasokan dari 5 boks menjadi 2 boks saja,” imbuhnya.

 

Selain telur ayam, kenaikan harga jual juga terjadi pada komoditas beras dan minyak goreng. Beras premium dari Rp10.000 naik menjadi Rp11.500/kg. Sedangkan minyak goreng curah dari awalnya Rp16.000 naik menjadi Rp20.000 per liter.

Kenaikan harga telur ayam, beras, dan minyak goreng diikuti jejaknya oleh daging ayam di sejumlah pasar tradisional Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Satu diantaranya terpantau di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan, harga ayam potong yang sebelumnya Rp31.000 per kg, saat ini naik menjadi Rp40.000 per kg.

"Semua harga naik, padahal perayaan Natal dan Tahun Baru sudah lewat. Tapi harga belum ada yang turun. Terutama daging ayam potong terus naik tembus Rp40.000 per kilo. Banyak konsumen yang mengeluhkan ini,” beber salah seorang pedagang ayam potong, Winarti.

Penjual telur ayam di Kota Malang, Jawa Timur. (Foto Sariagri/Arief L)
Penjual telur ayam di Kota Malang, Jawa Timur. (Foto Sariagri/Arief L)

Winarti menyebut kenaikan harga daging ayam terjadi karena stok ketersediaan ayam potong dari peternak ayam sedang menipis.

"Mungkin faktor cuaca ekstrim sehingga ayam di kandang banyak yang mati terserang penyakit. Sehingga pasokan ke pasar turun dan mengakibatkan harga terus naik,” tambahnya.

Meski harga naik, pembeli terpaksa tetap belanja ayam potong. Hal ini lantaran terdesak kebutuhan usaha.

“Sebagai pelanggan mestinya rugi karena ayam potong mahal. Tapi mau gimana lagi ya terpaksa tetap beli karena kebutuhan usaha penyetan ayam. Sebab kalau nggak beli tidak bisa jualan di warung,” kata, pelanggan pemilik penyetan ayam, Lilik Sudarwati.

Sementara kenaikan harga paling mencolok terjadi pada cabai rawit merah segar, dari semula Rp30.000 per kg, kini sudah sepekan bertahan di angka Rp90.000 per kg.

Akibat meroketnya harga cabai rawit merah ini, sejumlah pedagang mengaku pendapatnya menurun. “Tidak cuma sepi pembeli, tapi omzet penjualan juga ikut menurun drastis. Kalau terus-terusan begini, pedagang jelas rugi. Karena harga kulakan cabai rawit segar mahal dan tidak bisa tahan lama kemudian dijual busuk pasti anjlok,” ucap pedagang cabai, Sulastri.

Konsumen berharap pemerintah turun tangan atasi kenaikan bahan pokok

Sebagai konsumen yang menggantungkan bahan jualan ayam potong dan cabai, Lilik berharap pemerintah segera turun tangan mengendalikan harga yang cenderung terus meroket.

“Saya dan pedagang sepakat minta pemerintah segera menormalkan kembali harga kebutuhan pokok, terutama telur, daging ayam hingga cabai. Biar kami tidak kesulitan dan merugi," kata Lilik.

Meroketnya harga cabai rawit merah di juga terpantau di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Akibat mahalnya harga cabai rawit merah yang tembus di angka Rp90.000 per kg, banyak konsumen yang terpaksa beralih membeli cabai kering impor. Kondisi ini, salah satunya dijumpau di Pasar Besar Ngawi.

Baca Juga: Harga Telur, Cabai, dan Daging Ayam di Jatim Masih Tinggi, Pemerintah Diminta Segera Turun Tangan
Pemprov DKI Prediksi Harga Cabai dan Telur Turun Bulan Depan



Menurut Suprapto, salah seorang penjual cabai, pelanggan banyak yang memburu cabai kering karena harganya lebih murah. “Berhubung harga cabai rawit merah segar, tembus Rp90.000 per kilo, pelanggan banyak yang beralih ke cabai kering impor di harga Rp60.000 perkilogram," tutur pedagang cabai, Suprapto.

Meski demikian, ia mengaku penjualan seluruh jenis cabai cenderung menurun. Biasanya ia bisa menjual cabai sekitar 150 kg, kini hanya mampu laku 100 kg saja per harinya.

Sementara dikonfirmasi di tempat terpisah, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) Kabupaten Ngawi, Yusuf Sosyadi menjelaskan saat ini mulai terjadi lonjakan harga terutama pada komoditi sayuran.

Menyikapi itu untuk pasokan sayuran dan bahan pangan lainnya pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak semua lini untuk mengendalikan harga.

“Saya coba berkoordinasi dengan dinas pertanian dan pangan serta distributor yang berasal dari luar daerah, agar kebutuhan sayuran terutama cabai, telur hingga daging ayam bisa terkendali,” terang Kepala DPPTK Kabupaten Ngawi, Yusuf Sosyadi.

Video Terkait