Perbatasan Cina Ditutup, 300 Ribu Ton Buah Naga Negara Ini Tidak Ada Pembeli

Ilustrasi Buah Naga (Pixabay)

Editor: Dera - Senin, 10 Januari 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Sekitar 300.000 ton buah naga yang akan segera dipanen di Vietnam terancam tidak memiliki pembeli karena Pemerintah Cina membatasi perdagangan melalui perbatasannya, seperti diberitakan vnexpress.net.

Wakil Direktur Departemen Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Provinsi Binh Thuan, Phan Van Tan, menjelaskan bahwa banyak konsumen di Cina telah berhenti membeli buah naga asal Vietnam karena perdagangan yang dibatasi dan banyak kontainer menumpuk di perbatasan.

Dalam beberapa minggu terakhir, harga buah naga telah mengalami penurunan seiring kebijakan Cina untuk memperketat penyebaran virus COVID-19, yang menyebabkan ribuan truk kontainer terjebak di perbatasan.

Beberapa eksportir mengatakan mereka telah mencoba mengangkut barang melalui laut. Akan tetapi, cara itu bukan solusi yang berkelanjutan karena biaya pengiriman melonjak tiga kali lipat dari sebelumnya.

Cina merupakan pembeli terbesar hasil pertanian dan buah naga Vietnam selama bertahun-tahun. Ekspor buah naga ke Cina melebihi 50 pasar lainnya, kata Nguyen Khac Huy, CEO Perusahaan Hoang Phat Fruit di Provinsi Long An.

Kedekatan wilayah Cina dengan Vietnam menjadi alasan eksportir lebih suka mengirim hasil panen buah mereka ke negara itu, dibanding tujuan lain seperti Eropa yang dapat memakan waktu hingga 42 hari.

Vietnam memproduksi sekitar 1,4 juta ton buah naga setiap tahun. Delapan puluh persen hasil panen itu berasal dari tiga provinsi yaitu Binh Thuan, Long An, dan Tien Giang.

Baca Juga: Perbatasan Cina Ditutup, 300 Ribu Ton Buah Naga Negara Ini Tidak Ada Pembeli
Takut Penyebaran Covid-19, Cina Hentikan Impor Buah Naga dari Vietnam

Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, Tran Thanh Nam, menyarankan supermarket nasional agar membeli buah dari para petani sebagai bentuk dukungan.

Kementerian Perdagangan Vietnam juga akan mengadakan forum diskusi dengan kantor perdagangan di Eropa untuk melakukan diversifikasi output.

 

Video Terkait