Surplus Neraca Perdagangan Cetak Rekor Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir

Ilustrasi Ekspor (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Rabu, 19 Januari 2022 | 18:55 WIB

Sariagri - Kinerja ekspor dan impor Indonesia tahun 2021 ditutup dengan pencapaian positif pada neraca perdagangan. Pada Desember 2021, Indonesia mengalami surplus 1,02 miliar dolar AS. Capaian ini  mempertahankan  tren surplus sejak Mei 2020 atau selama 20 bulan berturut-turut.

Sepanjang 2021, surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai 35,34 miliar dolar AS. Nilai surplus itu merupakan rekor tertinggi sejak 15 tahun terakhir atau sejak 2006, di mana pada tahun itu nilai surplus mencapai 39,37 miliar dolar AS.

“Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia tetap mampu mencatatkan performa impresif pada neraca perdagangan. Kinerja ini akan meningkatkan resiliensi sektor eksternal Indonesia, sehingga semakin kuat menghadapi berbagai tantangan yang diperkirakan masih berlanjut di tahun ini,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Kinerja surplus sepanjang 2021 ditopang nilai ekspor yang mencapai 231,54 miliar dolar AS atau tumbuh double digit 41,88% (yoy). Hilirisasi komoditas unggulan seperti turunan produk CPO mendorong performa ekspor Indonesia. Hal tersebut tercermin dari ekspor komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) yang sepanjang 2021 mencapai 32,83 miliar dolar AS atau meningkat 58,48% (yoy).

Selain CPO, hilirisasi komoditas nikel juga memperkuat performa ekspor Indonesia dengan pertumbuhan ekspor komoditas nikel dan barang daripadanya (HS 75) mampu tumbuh 58,89% (yoy) menjadi 1,28 miliar dolar AS.

Dari 10 besar komoditas utama ekspor, komoditas bijih logam, terak dan abu (HS 26) mengalami pertumbuhan tertinggi 96,32% (yoy) menjadi 6,35 miliar dolar AS diikuti ekspor komoditas besi dan baja (HS 72) yang juga naik signifikan 92,88% (yoy) menjadi senilai 20,95 miliar dolar AS.

“Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia terus berlanjut. Tercermin pula dari meningkatnya penciptaan nilai tambah pada sektor manufaktur. Terbukti secara kumulatif, ekspor non migas hasil industri pengolahan Januari - Desember 2021 naik 35,11% (yoy) menjadi sebesar US$177,11 miliar,” kata Airlangga.

Selain itu, level Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga terus berada di zona ekspansif 53,5 pada Desember 2021, melanjutkan level ekspansi yang sudah terjadi selama empat bulan berturut-turut. Level PMI Indonesia Desember 2021 itu bahkan lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN, seperti Malaysia (52,8), Vietnam (52,5), Filipina (51,8), Thailand (49,5), dan Myanmar (49,0).

Penurunan kasus COVID-19 yang terjadi secara konsisten dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2021 membuat pemerintah dapat memberlakukan pelonggaran pembatasan mobilitas. Kondisi ini memberikan kelancaran aktivitas ekonomi sehingga mendorong kenaikan pada aggregate demand sehingga sektor manufaktur juga terstimulasi untuk meningkatkan output produksinya.

Meski begitu, pemerintah tetap mewaspadai fenomena meningkatnya kasus varian Omicron yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada akhir Januari atau awal Februari 2022.

“Dengan semakin efektifnya pengendalian Covid-19 dan antisipasi yang baik terhadap penyebaran varian Omicron serta diiringi dengan terjaganya tingkat kedisiplinan protokol kesehatan, maka penurunan kasus Covid-19 diharapkan dapat terus terjadi, sehingga mampu mengakselerasi pemulihan ekonomi. Surplus perdagangan yang terus terjaga sepanjang 2021 juga disebabkan dari kinerja ekspor komoditas andalan Indonesia yang tetap solid,” jelas Airlangga.

Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada 2021 juga meningkat menjadi sebesar 196,20 miliar dolar AS atau tumbuh 38,59% (yoy). Struktur impor Indonesia di 2021 didominasi impor golongan bahan baku dan penolong senilai 147,38 miliar dolar AS (75,12% dari total impor), diikuti barang modal 28,63 miliar dolar AS (14,59% dari total impor) dan barang konsumsi 20,18 miliar dolar AS (10,29% dari total impor).

Baca Juga: Surplus Neraca Perdagangan Cetak Rekor Tertinggi dalam 15 Tahun Terakhir
RI-Jepang Tingkatkan Kerja Sama dalam Rantai Pasok Regional dan Global

Struktur itu mengindikasikan perekonomian Indonesia yang produktif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kembali.

“Kinerja positif di 2021 ini akan terus dipertahankan Pemerintah dengan mengoptimalkan berbagai kebijakan, terutama dalam mendorong semakin banyaknya ekspor komoditas bernilai tambah,” pungkasnya. 

Video:

Video Terkait