India Batalkan Pengenaan BMAD, Ekspor Produk Benang Pintal RI Berpotensi Naik

Polyester Spun Yarn.(Piqsels)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 20 Januari 2022 | 19:00 WIB

Sariagri - India membatalkan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) produk benang pintal poliester (Polyester Spun Yarn/PSY) Indonesia. Dengan pembatalan ini, ekspor produk itu ke India berpotensi mengalami kenaikan. 

Kemendag melaporkan pembatalan BMAD produk PSY berdasarkan keputusan Kementerian Keuangan India melalui Tax Revenue Unit (TRU). Keputusan itu tertuang dalam Office Memorandum No. 190354/182/2021- TRU yang diterbitkan Pemerintah India pada 8 Januari 2022.

Dengan putusan itu, rekomendasi akhir dari Directorate General Trade Remedies (DGTR) India yang terbit pada 19 Agustus 2021 dinyatakan batal dan eksportir Indonesia tidak dikenakan BMAD sebesar 61 dolar AS/MT hingga 191 dolar AS/MT.

"PSY merupakan salah satu produk tekstil dengan nilai ekspor yang cukup besar ke India. Pembatalan ini tentunya menjadi kabar gembira bagi eksportir Indonesia dalam rangka mempertahankan serta meningkatkan nilai ekspor produk unggulan ini ke India, terutama di masa pemulihan pasca pandemi," ujar Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, Kamis (20/1/2022).

Lutfi mengungkapkan, produk PSY Indonesia sudah memiliki pasar cukup besar di India. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor PSY Indonesia ke India mencapai nilai tertinggi pada 2019 yaitu 51 juta dolar AS.

Nilai ekspor itu sempat turun menjadi 23 juta dolar AS pada tahun berikutnya. Sedangkan, pada periode Januari-Juni 2021 nilai ekspornya tercatat sebesar 26,1 juta dolar AS, atau naik 321,23 persen dari periode yang sama pada sebelumnya yakni sebesar 6,19 juta dolar AS.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana menyatakan bahwa keberhasilan ini patut untuk disyukuri.

"Khusus untuk produk tekstil asal Indonesia, ini merupakan kali ketiga sejak 2021 pemerintah India batal menerapkan BMAD. Momentum keberhasilan ini tentunya diharapkan akan terus berlanjut untuk kasus lainnya," jelas Wisnu.

Wisnu mengungkapkan, kasus itu bermula pada 21 Mei 2020 saat otoritas DGTR India menginisiasi penyelidikan anti dumping untuk PSY dengan kode HS 5509.21.00 asal Tiongkok, Indonesia, Nepal dan Vietnam. PSY adalah bahan baku pembuatan kain yang digunakan untuk bahan pakaian, gorden, jok mobil, dan produk lainnya.Baca Juga: India Batalkan Pengenaan BMAD, Ekspor Produk Benang Pintal RI Berpotensi Naik
Indonesia Dukung Penuh Usulan Priority Economic Deliverables Kamboja



Direktur Pengamanan Perdagangan, Natan Kambuno menambahkan, kesuksesan ini merupakan hasil kerja sama dari semua pihak yang terlibat yaitu pemerintah, asosiasi, dan eksportir tertuduh.

"Setelah adanya pembatalan ini, diharapkan eksportir atau produsen produk PSY Indonesia akan mampu menggenjot ekspor ke India," pungkas Natan. 

Video:

Video Terkait