Efek Konflik Rusia-Ukraina, Negara Ini Yakin Tak Akan Kekurangan Pasokan Gandum

Tanaman gandum. (Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 25 Februari 2022 | 13:50 WIB

Sariagri - Turki tidak khawatir adanya kemungkinan kekurangan pasokan gandum karena konflik antara Rusia dan Ukraina, dua negara yang memasok sejumlah besar impor biji-bijian, kata Kementerian Pertanian pada Kamis (24/2/2022) dilansir dari Successful Farming.

Invasi habis-habisan Rusia ke Ukraina telah meningkatkan prospek pasokan komoditas yang lebih ketat, karena kemungkinan sanksi terhadap ekspor Rusia, gangguan transportasi, dan Moskow menahan pasokan.

Rusia dan Ukraina bersama-sama menyumbang 29% dari ekspor gandum global, 80% dari ekspor minyak bunga matahari dan 19% dari ekspor jagung dunia. Harga gandum melonjak ke level tertinggi 9-1/2 tahun pada hari Selasa, dan harga jagung ke puncak delapan bulan.

Rusia sendiri menyumbang 56% dari impor biji-bijian Turki pada tahun 2021 sebesar $ 2,24 miliar (sekitar Rp32 triliun), data dari Institut Statistik Turki menunjukkan, dan gabungan dari Rusia dan Ukraina mencapai 78%. Impor biji-bijian dari Ukraina mencapai $861 juta atau Rp12 triliun tahun lalu.

Kementerian Pertanian mengatakan tidak ada kekurangan pasokan gandum, biji-bijian lainnya dan bahan baku sampai musim panen berikutnya mengingat pasokan saat ini masih tersedia di gudang.

"Tidak peduli berapa banyak bobot yang diperoleh Rusia dan Ukraina dalam pasokan biji-bijian kami dalam beberapa tahun terakhir, pasokan biji-bijian tersedia dari negara-negara pengekspor lain dan berasal dari perdagangan internasional," katanya.

“Bersama dengan ekspektasi positif untuk produksi biji-bijian pada 2022, negara kita tidak melihat adanya masalah dalam pasokan pangan,” tambah kementerian itu.

Baca Juga: Efek Konflik Rusia-Ukraina, Negara Ini Yakin Tak Akan Kekurangan Pasokan Gandum
Harga Pangan Dunia Diproyeksikan akan Naik di Tahun 2021



Namun, analis mengatakan Turki dapat melihat tekanan inflasi lebih lanjut dari kenaikan harga komoditas, termasuk minyak, gas alam, dan biji-bijian. Inflasi tahunan di Turki naik hampir 50% pada Januari, terutama karena krisis mata uang pada akhir tahun 2021, yang membuat lira pada akhir tahun turun 44% terhadap dolar. Harga pangan juga melonjak tahun lalu sebagian karena kekeringan.

"Naiknya harga komoditas, termasuk harga gandum, jelas akan memiliki implikasi negatif terhadap inflasi di Turki," kata Piotr Matys, analis senior FX di In Touch Capital Markets.

Masih menurutnya, produsen makanan akan mengalihkan sebagian kenaikan harga energi ke dalam produk mereka. Jadi, Turki bakal menghadapi periode inflasi tinggi yang berkepanjangan. 

Video Terkait