Korban Bisnis Pre Order Berjatuhan di Balik Minyak Goreng yang Masih Langka

Ilustrasi minyak goreng. (Antara)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Kamis, 3 Maret 2022 | 16:30 WIB

Sariagri - Korban bisnis bermodus menjual minyak goreng terus berjatuhan. Bukan saja di Jakarta, di sejumlah kota lainnya juga bermunculan. Bahkan, di Kota Tangerang, Banten, terdapat puluhan warga dalam satu rukun tetangga (RT) tertipu.

Di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, penjualan minyak goreng dengan sistem pre-order tak hanya menjerat ibu-ibu, melainkan penjual minyak goreng yang selama ini menjadi langganan pelaku.

Aksi serupa juga terungkap di Koja, Jakarta Utara. Di sini, pelaku menipu dengan modus menawari korban paket minyak goreng dan mie instan dengan harga di bawah standar, masing-masing Rp135.000 per 12 liter (karton) dan Rp80.000 per dus.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Endra Zulpan, mengatakan kasus penipuan bisnis minyak goreng bermula dari korban membeli dengan cara menyerahkan uang terlebih dahulu atau pre-order dan delapan hari kemudian paket baru diserahkan. Namun, setelah jatuh tempo, barang yang dijanjikan tidak kunjung datang.

Menurut Zulpan tersangka pelaku dijerat dengan Pasal 378 dan/atau 372 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan dan penggelapan.

Terpisah, pengamat kebijakan publik dari Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), Sri Mulyono, mengatakan terungkapnya modus bisnis menjual minyak goreng murah karena ada kesempatan. “Kesempatan ini dimanfaatkan untuk mencari minyak goreng. Saat mendapatkan minyak goreng kemudian dijual lagi ke pihak yang membutuhkan. Biasanya dimulai dari orang terdekat, dikenal atau anggota keluarga,” ujarnya.

Sri Mulyono menambahkan, kesempatan yang terbatas di saat minyak goreng langka itu ternyata menggiurkan. “Pelaku kemudian memulai dengan pre-order. Awalnya pasti lancar. Tapi, setelah banyak permintaan, mulailah kesulitan. Kian lama makin sulit karena minyak goreng memang langka, apalagi pengawasan ketat, maka modal dan biaya terkikis, pelaku pun kehabisan dana,” paparnya.

Menurut Sri Mulyono, kasus pre-order minyak goreng sebenarnya modus berulang dari peristiwa sebelumnya. “Di beberapa peristiwa terungkap tentang modus sembako, daging, dan bahan pokok lainnya, terutama menjelang hari raya keagamaan. Pelaku dan korban sebenarnya kenal, namun karena kemampuannya terbatas, akhirnya terjerat kasus,” pungkasnya.

Baca Juga: Korban Bisnis Pre Order Berjatuhan di Balik Minyak Goreng yang Masih Langka
Ekonom Senior Indef Ini Nilai Kebijakan HET Belum Cukup Atasi Masalah Minyak Goreng

Dihubungi terpisah, Niar, yang sehari-sehari menjajakan kebutuhan rumah tangga dalam jumah besar atau sekelas distributor di Bekasi, mengungkapkan bahwa bisnis pre-order selalu menggiurkan.

“Tapi, kalau sudah terbentur pasokan alias barang langka, bisa langsung bangkrut dan terjerat hukum. Sebab, janji yang diberikan tidak sesuai order,” katanya.

Video Terkait