Harga Komoditas Naik Justru Membuat Rupiah dalam Posisi Diuntungkan

Ilustrasi - Hasil perkebunan kelapa sawit. (Antara)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Rabu, 9 Maret 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Naiknya harga minyak dunia dan sejumlah komoditas ekspor minerba dan crude palm oil (CPO) imbas dari konflik Rusia-Ukraina bakal menambah pendapatan devisa sehingga menstabilkan nilai tukar rupiah.

Direktur Center of Economic and Law Studies Celios, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan kenaikan harga komoditas dunia justru membuat rupiah dalam posisi diuntungkan.

Booming harga batubara dan CPO mendongkrak devisa ekspor. Jadi rupiah masih dalam rentang yang wajar asal tidak terjadi inflasi berlebihan di dalam negeri,” kata Bhima saat dihubungi, Rabu (9/3).

Sementara dampak ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Bhima memperkirakan akan terjadi tambahan pendapatan negara baik pajak dan PNBP sebesar Rp192 triliun apabila harga minyak bertahan di 127 dolar AS per barel. Sementara dari sisi belanja terjadi kenaikan sebesar Rp166,4 triliun.

“Hal ini berdasarkan skenario selisih antara asumsi harga minyak mentah di APBN 2022 dengan realisasi harga minyak kontrak saat ini,” papar Bhima.

Harga BBM Naik

Terpisah, ekonom energi UGM, Fahmi Radhi menggarisbawahi kenaikan harga minyak dunia bagi Indonesia sangat tidak menguntungkan. Bahkan, membumbungnya harga minyak itu justru merugikan dan memperberat beban APBN.

“Dalam kondisi tersebut, pemerintah tidak cukup hanya memantau perkembangan, tetapi harus mengantisipasi dan membuat proyeksi harga minyak yang menjadi dasar dalam mengambil keputusan terkait harga BBM di dalam negeri,” kata Fahmi.

Adapun kalau harga BBM tidak dinaikkan,  Pertamina harus menjual BBM di bawah harga keekonomian, yang berpotensi menanggung beban kerugian Namun, beban kerugian Pertamina tersebut menurut Fahmi musti diganti oleh Pemerintah dalam bentuk dana kompensasi.

“Kenaikan harga minyak dunia tidak begitu berdampak terhadap Pertamina, tetapi akan memperberat beban APBN,” kata Fahmi.

Baca Juga: Harga Komoditas Naik Justru Membuat Rupiah dalam Posisi Diuntungkan
Harga Minyak Meroket, Brent Tembus 103 Dolar AS per Barel

Guna mengurangi beban APBN, Fahmi mengatakan pemerintah harus memutuskan kebijakan terhadap harga BBM. Kebikan itu meliputi, menaikkan harga Pertamax sesuai harga pasar, menghapus Premium yang subsudi content tinggi, tidak menaikan harga Pertalite dengan mengalihkan subsidi Premium sehingga harga Pertalite tidak dinaikkan.

“Kenaikan harga Pertalite akan punya dampak domino  menaikkan inflasi dan menurunkan daya beli rakyat.  Pasalnya, jumlah konsumen BBM terbesar dengan proposi mencapai 63 persen. Selain itu, Pemerintah perlu membuat penyesuaian ICP secara proporsional yang diseuaikan dengan perkembangan harga minyak dunia,” jelas Fahmi.

Video Terkait