Belajar dari Malaysia yang Bisa Sediakan Minyak Goreng Murah

Pekerja mengisi minyak goreng curah ke dalam jeriken di salah satu tempat pengisian di kawasan Cipete, Jakarta, Kamis (17/3/2022). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Editor: Putri - Jumat, 18 Maret 2022 | 16:35 WIB

Sariagri - Pemerintah menghapus kebijakan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng. Harga minyak goreng kemasan yang sebelumnya Rp14.000 per liter, kini harganya akan diserahkan ke mekanisme pasar.

Sebagai gantinya, pemerintah memberikan subsidi untuk minyak goreng curah. HET minyak goreng curah menjadi Rp14.000 yang sebelumnya Rp11.500 per liter.

Naiknya harga minyak goreng dirasakan sejak akhir Agustus 2021. Saat itu harga minyak goreng 1 liter mencapai Rp20.000. Bahkan harga minyak goreng kemasan bermerek naik hingga Rp24.000 per liter.

Saat itu Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan bahwa harga minyak goreng akan terus naik hingga kuartal I-2022. Hal tersebut dikarenakan harga crude palm oil (CPO) terus menguat.

Pada 31 Januari 2022, Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Mufti Anam ihwal meminta penjelasan kepada Menteri Perdagangam (Mendag) terkait harga minyak goreng di Malaysia yang hanya Rp8.500 per liter.

"Kalau kita lihat, saya juga lihat di media, harga minyak goreng di MalaysiaRp 8.500 per liter itu betul enggak, Pak Menteri?" kata Mufti Anam dalam rapat kerja antara Komisi VI DPR dengan Menteri Perdagangan.

Lutfi kemudian menjelaskan bahwa sejak 2016, Malaysia memiliki kebijakan subsidi langsung kepada masyarakat.

"Memang ini biasa di Malaysia, mereka memberikan subsidi-subsidi langsung kepada masyarakat," ujar dia.

Jadi, program apa yang dimiliki Malaysia untuk menjaga harga minyak goreng agar tetap terjangkau oleh masyarakatnya?

Mengutip berbagai sumber, Malaysia memiliki program Skema Stabilisasi Minyak Goreng (COSS) yang dilaksanakan oleh Kementerian Perusahaan Perladangan dan Komoditi (MPIC). Program tersebut dilaksanakan karena kenaikan harga minyak sawit mentah pada kuartal kedua pada 2006 dan awal 2007.

Hal tersebut mengakibatkan kenaikan harga minyak goreng lokal, beban kilang dan mempengaruhi konsumsi domestik. MPIC mengatur COSS melalui Divisi Pengembangan Industri Kelapa Sawit dan Sagu (Bahagian Kemajuan Industri Sawit Dan Sago/BISS).

Fungsi BISS adalah memantau dan melaksanakan program stabilisasi harga minyak sawit. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB), sebuah lembaga di bawah MPIC, bertanggung jawab dalam meningkatkan kesejahteraan industri kelapa sawit Malaysia melalui penelitian, pengembangan, dan layanan terbaik.

COSS merupakan program subsidi minyak goreng yang bertujuan untuk meringankan beban konsumen dalam biaya hidup. Pada 2021, Pemerintah Malaysia melalui Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Konsumen dan Kementerian Keuangan mengalokasikan 600 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp2,05 triliun. Jumlah tersebut naik dari sebelumnya 528 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp1,03 triliun pada 2020.

Subsidi ini diberikan kepada minyak goreng yang dikemas dalam polybag 1 kilogram dan ditawarkan kepada konsumen dengan harga terjangkau yaitu 2,50 ringgit per polybag atau Rp8.538. Pemerintah Malaysia menjamin kualitas minyak goreng sawit bersubsidi yang dijual dalam polybag sama dengan yang dijual dalam botol bahkan ada yang diproduksi di pabrik yang sama.

Subsidi Minyak Goreng Curah

Sementara di Indonesia, minyak goreng curah bersubsidi akan dihargai Rp14.000. Minyak curah sebelumnya dilarang untuk diedarkan. Namun Kemendag mencabut larangan penjualan minyak goreng curah.

"Pemerintah memutuskan bahwa akan mensubsidi minyak kelapa sawit curah sebesar Rp14 ribu per liter dan subsidi akan diberikan berbasis kepada dana dari BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit)," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Baca Juga: Belajar dari Malaysia yang Bisa Sediakan Minyak Goreng Murah
Lima Bos Besar Minyak Goreng di Indonesia

Airlangga menjelaskan bahwa subsidi terhadap minyak goreng curah diberikan karena mempertimbangkan situasi dan keadaan terkini terkait distribusi minyak goreng saat ini.

"Pemerintah memperhatikan situasi penyaluran dan keadaan dari pada distribusi minyak goreng dan memperhatikan situasi dan kondisi global yang harganya naik termasuk minyak nabati dan di dalamnya termasuk minyak kelapa sawit," tandasnya.

Video Terkait