Gawat! Invasi Rusia ke Ukraina Bikin Stok Indomie Mulai Berkurang

Ilustrasi indomie. ([email protected])

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Selasa, 22 Maret 2022 | 15:40 WIB

Sariagri - Konflik Rusia ke Ukraina kini telah mempengaruhi produksi mi Instan di Indonesia, termasuk indomie yang sangat terkenal. Diketahui produk mi instan indonesia menggunakan bahan campuran gandum. Tapi kini impor gandum dari Ukraina terganggu akibat perang yang berkecamuk.

Mengutip dari Aljazeera, Lestary J Barany, asisten peneliti di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), mengatakan sudah ada bukti bahwa pasokan gandum negara itu berada di bawah tekanan.

"Ketika Rusia menginvasi Ukraina, aktivitas di pelabuhan Ukraina berhenti. Banyak lumbung terletak di timur, dekat dengan daerah yang diduduki pasukan Rusia. Dengan demikian, ancaman dari sisi pasokan bahan-bahan ini menjadi lebih nyata," ujar Barany kepada Aljazeera.

Barany mengungkapkan bahwa harga gandum global mencapai level tertinggi selama 14 tahun pada awal bulan ini. Harga tersebut juga menurutnya tetap tidak stabil. Sementara itu, Asosiasi Produsen Tepung Indonesia mencatat bahwa konsumsi tepung di Indonesia juga tumbuh sekitar 5 persen pada tahun 2021.

"Gandum impor dari Ukraina banyak digunakan oleh produsen mi, roti, dan tepung," ungkapnya.

Hingga kini pihak produsen Mi Indonesia belum memberi keterangan saat diminati konfirmasi. Kendati demikian, Aljazeera melaporkan bahwa stok Indomie sudah mulai berkurang di pasaran, salah satunya disebut oleh beberapa pedagang di kota Medan, Sumatera Utara.

Baca Juga: Gawat! Invasi Rusia ke Ukraina Bikin Stok Indomie Mulai Berkurang
Imbas Perang Rusia-Ukraina, Dunia Hadapi Krisis Pangan

Sebagai tambahan informasi, Ukraina mengekspor hampir 3 juta ton gandum dan meslin (sereal yang terdiri dari campuran gandum dan gandum hitam) ke Indonesia pada tahun 2020.

Pada tahun yang sama, Argentina mengekspor 2,63 juta ton gandum dan meslin ke negara Asia Tenggara itu, sementara Australia di dekatnya menyediakan hampir 831.000 ton.

Video Terkait