Melihat Perjalanan Kelapa Sawit di Indonesia, dari Industri hingga Politik

Ilustrasi - Perkebunan kelapa sawit. (Antara)

Editor: Putri - Selasa, 26 April 2022 | 17:40 WIB

Sariagri - Permasalahan minyak goreng di Indonesia tidak kunjung usai. Minyak goreng terutama minyak goreng sawit, adalah bahan pokok penting di Indonesia. Dari rumah tangga, usaha kecil menengah, hingga restoran, pasti membutuhkan minyak goreng.

Di Indonesia, kelapa sawit yang paling banyak digunakan sebagai bahan minyak goreng. Jika dilihat dari sejarah, tanaman kelapa sawit bukanlah asli Indonesia.

Pada 1848, Pemerintah Hindia Belanda membawa empat bibit kelapa sawit asal Afrika, kemudian menanam bibit tersebut di Kebun Raya Bogor. Anak pohon sawit kemudian dipindahkan ke Deli, Sumatra Utara. Di tempat ini, pohon kelapa sawit hanya dijadikan tanaman hias di sepanjang jalan.

Kelapa sawit baru dibudidayakan secara komersial dalam bentuk perkebunan pada 1911. Butuh waktu sekitar 63 tahun untuk akhirnya dapat menyeriusi kelapa sawit.

Orang yang pertama kali merintis usaha kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet, pria asal Belgia. Ia belajar tentang kelapa sawit di Afrika, lalu membuat usaha perkebunan kelapa sawit di Sungai Liput (Aceh) dan di Pulu Radja (Asahan).

Pada 1923, di bawah pemerintahan kolonial Belanda, Indonesia mampu mengekspor minyak inti sawit sekitar 850 ton. Perkembangan perkebunan kelapa sawit pun tumbuh pesat bahkan mampu menggeser kedudukan Afrika yang merupakan negara asal kelapa sawit.

Meski demikian, industri kelapa sawit di Indonesia tidak terus berada di atas angin. Saat dijajah Jepang, industri kelapa sawit menurun karena fokus ke tanaman pangan yang dirasa lebih penting semasa perang. Saat kemerdekaan pun industri sawit tidak langsung melejit. Sawit kembali bersinar pada 1970.

Pada masa pemerintahan Orde Baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sektor penghasil devisa negara.

Pemerintah Indonesia saat itu terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan. Hingga 1980, luas lahan kelapa sawit di Indonesia mencapai 294.560 hektare dengan produksi CPO sebesar 721.172 ton.

Sejak itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh kebijakan Pemerintah Indonesia yang melaksanakan program Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR – BUN).

Isu Lingkungan dan Berbagai Masalah Lainnya

Semakin berkembangnya kelapa sawit Indonesia, semakin menjadi andalan ekonomi di Indonesia. data Indexmundi.com, Indonesia merupakan negara penghasil CPO terbanyak di seantoro dunia.

BPS mencatat ada penambahan luas perkebunan sawit pada 2019 menjadi 14,4 juta hektare. Pada 2020 luasnya mencapai 14,8 juta hektare. Namun sayang, meski Indonesia jadi produsen CPO terbesar dunia, sawit dikendalikan oleh bursa di Negeri Jiran yakni Bursa Malaysia Derivatives (BMD).

Pada 2019, 28 negara Uni Eropa sepakat memasukan minyak sawit sebagai kategori tidak berkelanjutan sehingga tidak bisa digunakan untuk biodiesel. Negara Eropa akan menolak penggunaan CPO asal Indonesia yang berlaku total mulai 2030 dan pengurangan dimulai sejak 2024.

Baca Juga: Melihat Perjalanan Kelapa Sawit di Indonesia, dari Industri hingga Politik
Jadi Penyumbang Devisa Negara, Indonesia Genjot Ekspor Sawit ke Mesir

Pihak Indonesia menuding sikap Eropa berlatar persaingan bisnis. Hal tersebut dikarenakan komoditas rapeseed dan sun flower oil sangat tidak kompetitif melawan sawit.

Selain itu, industri kelapa sawit juga dipenuhi dengan beragam hal ilegal seperti dalam hal pembukaan lahan, usaha perkebunan, dan lain-lain.

Video Terkait