Tantangan Industri Sawit RI di Tengah Disrupsi Pasar Minyak Nabati Dunia

Ilustrasi industri kelapa sawit. (Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Kamis, 12 Mei 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Pandemi COVID-19, kegagalan panen karena faktor iklim, ditambah perkembangan geopolitik di Eropa menyebabkan disrupsi di pasar minyak nabati dunia, khususnya Uni Eropa.

Seperti diketahui Rusia dan Ukraina merupakan negara produsen minyak biji bunga matahari (sunflower oil). Konflik kedua negara telah menyebabkan kelangkaan pasokan sunflower oil di beberapa negara anggota Uni Eropa. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang yang harus disikapi secara tepat Indonesia sebagai produsen terbesar minyak kelapa sawit di dunia.

“Kelapa sawit ini sangat penting untuk negara kita. Buktinya begitu harga kelapa sawit tinggi dan ada isu minyak goreng, reaksi masyarakat sedemikian besarnya. Mulai sekarang kita harus mulai membangun dari bawah. Membangun suasana yang stabil dari hulu sampai hilir,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud, dalam opening remarks Roundtable Discussion bertajuk “Dinamika dan Perkembangan Terkini Terkait Minyak Sawit dan Minyak Nabati Lain di Uni Eropa,” Rabu (11/5/2022).

Industri kelapa sawit merupakan sektor strategis yang berkontribusi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia terutama pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 16 juta orang.

Dari sisi perdagangan, sektor industri sawit telah memberikan kontribusi cukup signifikan dengan menghasilkan devisa nasional 35,5 miliar dolar AS pada tahun 2021.

Saat ini industri sawit Indonesia menghadapi tantangan. Salah satunya negative campaign dan kebijakan diskriminatif yang seperti yang terjadi di Uni Eropa.

Mencermati dinamika dan situasi terkini baik di dalam maupun luar negeri yang mempengaruhi pasar minyak nabati dunia, terutama beberapa kebijakan terkait dengan minyak sawit di beberapa negara Uni Eropa, diperlukan penyamaan narasi bersama seluruh stakeholders sawit nasional untuk menyiapkan strategi kampanye positif dan program diplomasi minyak sawit Indonesia yang berkelanjutan di arena internasional.

Sementara itu, Professor Pietro Paganini, Adjunct Professor Fox School of Business at Temple University of Philadelphia and John Cabot University Rome, memaparkan materi berjudul “Palm Oil Supremacy: Reach out to the people of the world”/

Baca Juga: Tantangan Industri Sawit RI di Tengah Disrupsi Pasar Minyak Nabati Dunia
Serba Salah, Nasib Petani Sawit Kian Merana Dampak Pelarangan Ekspor CPO

Dia menekankan saat ini merupakan momen tepat bagi Indonesia untuk mengambil peranan sebagai leader dalam penyediaan minyak nabati di dunia. Terlepas dari isu domestik yang terjadi terkait minyak goreng dan pelarangan ekspor CPO serta turunannya, minyak kelapa sawit dibutuhkan Uni Eropa bahkan dunia untuk mengisi kekosongan stok sunflower oil yang tidak dapat diisi minyak nabati lain seperti soyabean oil, rapeseed oil maupun olive oil.

“Harus diakui Indonesia telah lebih maju dalam pembangunan kelapa sawit secara berkelanjutan, Indonesia juga telah menunjukkan kerja keras untuk mengatasi deforestasi selama 1 dekade terakhir. Karena itu akan menjadi momen yang tepat bagi Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kelapa sawit berkelanjutan, sehat dan aman merupakan jawaban untuk mengatasi kekurangan minyak nabati di dunia," kata Paganini.

 

Video Terkait