Menengok Strategi Malaysia yang Pangkas Impor Pakan Ternak 30 Persen

Ilustrasi jagung. (pixabay)

Editor: Dera - Jumat, 13 Mei 2022 | 13:10 WIB

Kementerian Pertanian dan Industri Makanan Malaysia menargetkan untuk mengurangi impor pakan ternak hingga 30 persen pada tahun 2030 melalui Proyek Pengembangan Industri Biji-Bijian Jagung.

Wakil Sekretaris Jenderal (Pengembangan) Kementerian Pertanian Malaysia, Datuk Badrul Hisham Mohd, menjelaskan bahwa saat ini Malaysia mengimpor sekitar empat juta ton matriks biji-bijian jagung senilai RM6,2 miliar (sekitar Rp20,6 triliun) per tahun.

Guna mencapai target, kata dia, dibutuhkan lahan yang cukup luas untuk menanam jagung yang dipandang dapat menjadi sumber kekayaan baru bagi pelaku industri di dalam negeri.

Saat ini, Kementerian Pertanian Malaysia sedang berusaha menyatukan para pemain industri komoditas utama untuk terlibat secara setara dalam tanaman jagung.

“Kami juga sedang berdiskusi dengan pelaku industri kelapa sawit agar mereka bisa mengalokasikan 10 persen lahannya untuk menanam jagung,” terangnya, seperti dilansir Bernama.

Badrul Hisham mengatakan, Pemerintah Malaysia perlu menemukan formula baru untuk mengatasi ketergantungan yang tinggi terhadap impor biji-bijian jagung.

“Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah tidak bisa sendiri dan oleh karena itu kita perlu menggandeng pelaku industri untuk terlibat dalam budidaya biji-bijian jagung ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, upaya mengurangi ketergantungan impor biji-bijian jagung telah dimulai sejak 2015 dan akan memakan waktu setidaknya 15 tahun melalui tiga tahap pelaksanaan.

Diperlukan waktu yang lama agar penelitian dan kajian dapat dilakukan bersama dengan para pemangku kepentingan untuk menciptakan industri yang stabil.

Kami sekarang berada di akhir fase pilot selama lima tahun, dari 2015 hingga 2022, dan setelah itu akan berlanjut ke fase konsolidasi dan ekspansi,” tambahnya .

Baca Juga: Menengok Strategi Malaysia yang Pangkas Impor Pakan Ternak 30 Persen
Jokowi Geram Jagung dan Kedelai Masih Impor!

Selama periode ini, pihaknya mengevaluasi berbagai aspek yang perlu diperhatikan, antara lain cara budidaya, penggunaan benih yang tepat, cuaca, quality control, dan lain-lain.

Penyelesaian masalah pasokan pakan ternak diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat sekaligus mengurangi belanja subsidi. 

Video Terkait