Efek Luar Biasa Buka-Tutup Keran Ekspor CPO Ala Jokowi

Hasil perkebunan kelapa sawit. (Antara)

Editor: Dera - Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Berawal dari langka dan mahalnya harga minyak goreng, pemerintah pun berupaya keras mencari solusi hingga gonta-ganti kebijakan. Mulai dari menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah sebesar Rp14.000 per liter, hingga melarang ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya. 

Sebagai negara produsen minyak sawit terbesar di dunia, fenomena langka dan mahalnya harga minyak goreng di Tanah Air jelas membuat miris dan prihatin, terlebih dengan kebijakan Presiden Jokowi yang dinilai plin-plan oleh sebagian kalangan. 

Bahkan larangan ekspor CPO yang mulai diterapkan pada 28 April 2022 pun sempat menuai kritikan pedas dari pengamat, politisi, legislator, pengusaha hingga petani. Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit pun ikut anjlok dan membuat petani sawit rakyat merugi. 

Dampak larangan ekspor CPO

Petani kecil terpaksa gigit jari dan membiarkan sawit mereka tak dipanen hingga membusuk, lantaran tidak ada pabrik atau perusahaan yang membelinya dengan alasan tangki sawit yang mulai penuh dan tak tertampung. 

Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO) tak hanya membuat negara kehilangan devisa negara, tapi juga menghambat pemulihan ekonomi global. Pihaknya menyebut larangan ekspor berpotensi menyebabkan kelangkaan pasokan CPO di pasar internasional dan menyebabkan kenaikan harga. 

Namun setelah kebijakan itu berlangsung lebih dari tiga pekan, Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan untuk kembali membuka keran ekspor CPO pada 23 Mei 2022. Orang nomor satu di Indonesia itu pun meminta maaf kepada petani maupun pengusaha yang terdampak dari kebijakan tersebut.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengklaim, setelah dilakukan kebijakan pelarangan ekspor, pasokan minyak goreng curah pada April meningkat menjadi 211.638,65 ton per bulan atau 108,74 persen atau melebihi kebutuhan bulanan nasional. Kemudian dari sisi stabilisasi harga, sebelumnya pelarangan harga minyak goreng curah terpantau mencapai Rp19.800 per liter, namun sesudah pelarangan ekspor ini turun menjadi di kisaran Rp17.200 sampai Rp17.500 per liter. 

Dampak larangan ekspor CPO dicabut

Dibukanya kembali keran ekspor CPO memberikan dampak yang luar biasa terhadap industri sawit. Kepala Penelitian CIPS Felippa Ann Amanta mengatakan pencabutan pelarangan ekspor bisa berperan dalam pemulihan ekonomi, baik nasional maupun global. Pasalnya, Indonesia memasok sekitar 60 persen dari total pasokan CPO dunia. Berkurangnya pasokan CPO di pasar internasional berdampak pada banyak negara dan juga upaya pemulihan ekonomi.

Pencabutan larangan itu juga membuat para eksportir sawit maupun petani sawit kembali bergairah dan bangkit dari keterpurukan. Selain itu, Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung juga mengklaim pencabutan larangan eskpor CPO membuat harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani mulai naik. 

Menurutnya, harga TBS sawit untuk petani swadaya pada (20/5) sudah Rp2.000 per kg, untuk petani plasma itu Rp2.500 per kg. Namun demikian masih di bawah harga standar yang ditetapkan oleh pemerintah. 

Baca Juga: Efek Luar Biasa Buka-Tutup Keran Ekspor CPO Ala Jokowi
Kapolri: Pengawasan Larangan Ekspor CPO Terus Berjalan

Sementara harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Jambi pada periode 20-26 Mei 2022 mengalami kenaikan cukup signifikan senilai Rp824 per kilogram dari Rp11.453 per kilogram menjadi Rp12.277 per kilogram, sedangkan Tanda Buah Segar (TBS) juga naik Rp81 per kilogram dari Rp2.191 per kilogram jadi Rp2.272 per kilogram.

Namun, dibukanya kembali keran ekspor CPO ternyata tak lantas membuat harga minyak goreng stabil. Di berbagai daerah, harga minyak goreng curah masih berada di atas HET, sementara minyak goreng kemasan masih dijual dengan harga meroket. Rakyat pun seakan menunggu, kapan negara yang dijuluki surganya sawit ini akan mampu menaklukan permasalahan minyak goreng yang tak kunjung usai. 

Video Terkait