Mengkhawatirkan, Ribuan Spesies Laba-laba Diperdagangkan di Pasar Gelap

Ilustrasi - Laba-laba.(Pixabay)

Editor: Arif Sodhiq - Senin, 23 Mei 2022 | 17:50 WIB

Sariagri - Perdagangan spesies laba-laba dan berbagai jenis hewan arakhnida di pasar gelap dunia secara online semakin marak. Kondisi ini mengancam upaya konservasi hewan berkaki delapan itu. 

Para peneliti menemukan jutaan serangga serta lebih dari 1.200 spesies laba-laba, kalajengking dan arakhnida lainnya masuk dalam perdagangan satwa liar pada 2000-2021.

Maraknya jual-beli arakhnida ini merupakan hasil studi tim peneliti, yang diterbitkan di Communications Biology. Tim peneliti menyebutkan hingga 50 persen spesies tarantula dunia terlibat dalam perdagangan satwa liar, termasuk 25 persen spesies yang dideskripsikan sejak tahun 2000

Arakhnida adalah serangga berkaki delapan dan merupakan kelas hewan invertebrata Arthropoda dalam subfilum Chelicerata. Tim menganalisis daftar arakhnida yang dijual online dan di database perdagangan Sistem Informasi Manajemen Penegakan Hukum (LEMIS) dan Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar yang Terancam Punah (CITES).

Menurut para peneliti, 67 persen dari Arakhnida yang diperjualbeikan ini didatangkan langsung dari alam liar. Beberapa serangga diperdagangkan bahkan mungkin merupakan spesies yang secara ilmiah belum terdeskripsikan.

Mereka menyebut invertebrata itu mudah diselundupkan karena ukuran tubuhnya kecil dan mudah disembunyikan. Kamera termal atau teknologi sinar-x yang digunakan tidak mampu mendeteksi sebagian besar spesies invertebrata itu.

Arakhnida telah menjadi hewan peliharaan populer, terutama karena serangga ini tidak membutuhkan banyak ruang. Namun lembaga internasional yang mengawasi perdagangan satwa liar belum memasukkan invertebrata dalam daftar mereka, sehingga menghambat upaya konservasi.

Para peneliti menyebutkan lebih dari 1 juta spesies invertebrata teridentifikasi di planet ini, hanya kurang dari 1 persen yang masuk dalam daftar penilaian Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN). Lembaga internasional ini selalu mengeluarkan Daftar Merah untuk menunjukkan spesies mana yang berisiko punah.

"Untuk sebagian besar spesies invertebrata, para peneliti kekurangan informasi yang tepat, meskipun ada potensi penurunan, sehingga harus ada peneitian lebih lanjut," kata penulis dalam penelitian itu seperti dikutip smithsonianmag.com.

Baca Juga: Mengkhawatirkan, Ribuan Spesies Laba-laba Diperdagangkan di Pasar Gelap
Dikenal Mematikan, Racun Laba-Laba Ternyata Punya Manfaat Besar



Mereka menambahkan invertebrata sering diabaikan dalam kebijakan dan praktik konservasi karena bias dalam persepsi politik, publik dan bahkan ilmiah. Akibatnya, upaya konservasi spesies itu sangat kekurangan dana.


 

Video Terkait