Kebijakan Presiden Jokowi Guncang Pasar Nabati Global

Hasil perkebunan kelapa sawit. (Antara)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Jumat, 27 Mei 2022 | 12:10 WIB

Sariagri - Keputusan Presiden Joko Widodo mencabut larangan ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya langsung disambut positif pelaku pasar. Harga CPO yang semula menanjak perlahan turun karena ada prospek pasokan bertambah. 

Pasar minyak nabati pun bergairah. Sebab, negara-negara yang semula bergantung CPO Indonesia kembali menyodorkan permintaan. Pasar juga tak bergantung dari suplai Malaysia semata, yang kabarnya sangat cuan saat Indonesia menyetop ekspor CPO.

Tak cuma itu, negara-negara barat yang sedang mengalami krisis energi, akibat pasokan migas dari Rusia diembargo, juga melirik turunan CPO Indonesia. Selain untuk kebutuhan konsumsi, kabarnya biodiesel juga diminati Barat. 

Itu terjadi karena kebergantungan Barat pada bunga matahari dan kedelai ternyata tak sesuai harapan. Produsen minyak kedelai sedang bermasalah dengan cuaca sehingga produksi anjlok. Itulah sebab, Barat sangat menginginkan biodiesel dari Indonesia.

Untuk diketahui, Indonesia adalah pengekspor minyak sawit terbesar dan minyak sawit ini digunakan dalam segala hal mulai dari margarin hingga sabun. Bahkan minyak sawit Indonessia menyumbang sekitar 60 persen dari pasokan dunia.

Lebih dari itu, harapan Malaysia menggantikan Indonesia juga agak sulit. Sebab, produksi CPO Malaysia kalah jauh dengan Indonesia. Kalaupun digenjot dua atau tiga kali lipat juga tak akan terkejar, sebab tenaga kerja yang digunakan juga banyak dari Indonesia.

Baca Juga: Kebijakan Presiden Jokowi Guncang Pasar Nabati Global
Ekspor Dibuka, Harga Migor Masih Tinggi dan Sawit Tak Kunjung Membaik

Bukan cuma mengguncang pasar, strategi Jokowi menyetop ekspor CPO ternyata menginspirasi India. Dengan alasan karena pasokan dalam negeri bermasalah dengan cuaca ekstrem, India juga mengumumkan menyetop ekspor gandum. 

Boleh jadi, trik Jokowi menyetop ekspor CPO sebagai sinyal terlibat dalam perang dagang. Kalau ini terjadi, wajar Indonesia menampilkan komoditas terbaiknya dalam perseteruan pangan dunia.

Video Terkait