Soal Permintaan Ekspor Beras ke Cina, DPR : Pemerintah Perlu Hati-Hati

Ilustrasi beras. (Pixabay)

Editor: M Kautsar - Senin, 13 Juni 2022 | 15:30 WIB

Sariagri - Anggota Komisi IV DPR-RI Fraksi PDIP, Sutrisno menyatakan pemerintah perlu berhati-hati dalam memenuhi permintaan Cina terhadap beras Indonesia.

"Mohon berhati-hati dalam konteks adanya permintaan ini," ujar Sutrisno dalam rapat kerja Komisi IV DPR RI bersama Menteri Pertanian di Komplek Parlemen, Senin (13/6/2022).

Dia mengatakan, permintaan 2,5 juta ton beras Indonesia oleh Cina perlu mempertimbangkan produksi dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. "Dalam kaitannya peluang permintaan beras dari Cina 2,5 juta ton, saya hanya ingin mendalami dari yang pak menteri rencanakan," paparnya.

Pemerintah menargetkan produksi gabah tahun 2022 sebesar 55,2 juta ton dan 54,5 juta ton pada tahun 2023.

Menurut Sutrisno, produksi 54,5 juta ton gabah jika dikonversi menjadi beras dengan rendemen sebesar 60 persen maka pasokan beras dalam negeri hanya berkisar 30,1 juta ton.

Karena itu, dia menghimbau agar pemerintah bisa menjamin terlebih dahulu pasokan dan stok beras dalam negeri sebelum mengekspornya. Meski, dalam tiga tahun belakangan Indonesia tidak mengimpor beras untuk cadangan nasional pemerintah perlu  mempertimbangkan kondisi krisis ekonomi dan lonjakan harga pangan dunia yang saat ini terjadi.

"Jangan kemudian (kekurangan) akhirnya balik lagi mengimpor, saat kita mengimpor kemudian negara lain menyetop akhirnya kita akan terjadi kekurangan pangan," pungkas Sutrisno.

Baca Juga: Soal Permintaan Ekspor Beras ke Cina, DPR : Pemerintah Perlu Hati-Hati
19 Ton Beras Asal Food Station Jakarta Diekspor ke Arab Saudi



Sebelumnya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) melakukan pertemuan dengan pihak BUMN Cina pada Rabu lalu (8/6) membahas keinginan Cina mengimpor beras dari Indonesia.

SYL menilai permintaan Cina sebanyak 2,5 juta ton beras RI dalam setahun menjadi peluang bagi ekspor Indonesia.

Video Terkait