Harga Jagung Naik Tajam, Pedagang Khawatirkan Cuaca Panas Ganggu Produksi

Ilustrasi - Ladang jagung. (Unsplash/Jesse Gardner)

Editor: Yoyok - Jumat, 17 Juni 2022 | 15:50 WIB

Sariagri - Harga jagung memperpanjang kenaikan tajam dari sesi sebelumnya dan menempatkan pasar di jalur untuk penguatan mingguan kedua berturut-turut pada Jumat (17/6) siang. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran cuaca yang panas di beberapa bagian Midwest Amerika Serikat.

Bloomberg pada pukul 15.45 WIB mencatat harga kontrak jagung Chicago Board of Trade (CBOT) naik 1,09 persen menjadi 743 dolar AS per bushel atau gantang. Harga gandum CBOT juga naik 0,21 persen menjadi 1.092.75 per bushel. Demikian pula harga kedelai CBOT naik 0,73 persen menjadi 1.554.50 dolar AS per bushel.

"Peramal cuaca memperkirakan musim panas dan kering di Midwest Amerika yang akan menguras kelembaban tanah lapisan atas di segmen signifikan wilayah itu," kata Tobin Gorey, Direktur Commonwealth Bank of Australia.

"Jadi tanaman selanjutnya akan lebih mengandalkan hujan biasa. Petani yang dipaksa melakukan penanaman relatif terlambat adalah bagian dari masalah tersebut."

Tidak ada ancaman langsung terhadap tanaman jagung Amerika, yang ditanam dalam cuaca basah, tetapi kekeringan yang berkepanjangan dan suhu yang mencapai rekor dapat membatasi hasil panen.

Suhu di seluruh Midwestern Amerika Serikat minggu ini melonjak jauh di atas rata-rata, dalam beberapa kasus ke level tertinggi sejak 2012, ketika kekeringan parah melanda Corn Belt, merusak hasil panen dan mendongkrak harga.

"Jagung Amerika umumnya dalam kondisi baik pada tahap awal ini," ujar Karen Braun, analis  Reuters

"Meski tanaman akan tertekan dalam panas terik, kerusakan permanen dapat dihindari jika cuaca membaik bulan depan."

Pada Juli, jagung AS biasanya mengalami penyerbukan, tahap kritis untuk menentukan potensi hasil panen, yang dapat tersendat jika tetap panas dan kering.

Kamis, Rusia mengatakan pihaknya memfasilitasi ekspor biji-bijian dan oilseed dari Ukraina melalui titik transit yang dikuasai Rusia di Laut Azov, tanpa menjelaskan siapa yang menyediakan bahan makanan tersebut bagi ekspor.

Ukraina, salah satu eksportir biji-bijian dan oilseed terbesar di dunia seperti Rusia, menuduh Moskow mencuri biji-bijian dari sejumlah wilayah di Ukraina yang direbut pasukannya.

Baca Juga: Harga Jagung Naik Tajam, Pedagang Khawatirkan Cuaca Panas Ganggu Produksi
Harga Kedelai Melonjak Setelah Anjlok Selama Empat Hari

Di tempat lain, Menteri Pertanian Rumania Adrian Chesnoiu mengatakan cuaca dan biaya produksi yang lebih tinggi menandakan tanaman biji-bijian negara itu akan sedikit lebih rendah dari panen raya tahun lalu, tetapi masih memastikan surplus yang cukup bagi ekspor.

Rumania menjadi salah satu penjual biji-bijian terbesar di Uni Eropa dan merupakan eksportir aktif ke Timur Tengah, dengan Mesir sebagai pembeli utama.

Video Terkait