Selain Nanas, Cina Kembali Larang Ekspor Ikan Kerapu dari Taiwan

Ilustrasi ikan kerapu. (Antaranews)

Editor: Dera - Jumat, 24 Juni 2022 | 17:40 WIB

Sariagri - Setelah melarang ekspor nanas dari Taiwan tahun lalu, Cina kembali mengambil kebijakan yang dapat memukul perekonomian Taiwan. Belum lama ini, Cina melarang ekspor ikan kerapu dari negara tersebut.

Di Taiwan, kerapu merupakan salah satu industri yang menguntungkan dan larangan Cina diperkirakan akan membebani ekonomi Taipei. Setidaknya, itu yang dirasakan Lin Chun-lai, yang membeli peternakan kerapunya di Taiwan selatan sekitar satu dekade lalu.

Setelah beberapa tahun, mantan tukang listrik itu menghasilkan cukup uang untuk menghidupi keluarganya yang terdiri dari empat orang. Mereka bahkan membuka penginapan kecil. Namun Cina tiba-tiba melarang semua impor kerapu dari pulau itu.

Itu adalah upaya nyata oleh Beijing untuk memutar sekrup ekonomi di Taiwan, sebuah pulau dengan pemerintahan sendiri yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya sendiri.

Larangan tiba-tiba oleh Cina ini telah membuat Lin dan petani lain seperti dia keluar dari pasar utama mereka. Itu telah mengancan mata pencaharian mereka. Larangan oleh Cina terhadap ikan kerapu ini memberikan pukulan besar bagi industri yang menguntungkan, lapor New York Times.

"Jika saya tidak bertani kerapu, apa lagi yang bisa saya lakukan untuk hidup?" ungkap Lin yang membudidayakan lebih dari 70.000 ikan.

Kerapu sudah siap panen, namun sejak larangan itu berlaku seminggu lalu, dia belum menerima pesanan dari pedagang ikan yang biasanya akan berkunjung pada saat-saat seperti ini.

Di sisi lain, petugas bea cukai Cina mengatakan mereka telah menemukan bahan kimia terlarang dan obat-obatan lain dalam kadar yang berlebihan dalam kerapu yang baru saja diimpor dari Taiwan. Namun, pejabat Taiwan berpendapat bahwa larangan itu bermotif politik.

Cina seakan melihat Taiwan dengan tujuan untuk merebut wilayahnya. Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa penyatuan Taiwan dengan Cina tidak dapat dihindari.

Sikap Xi Jinping terhadap Taiwan diabaikan oleh sebagian besar dari 23 juta penduduk Taiwan. Mereka mendukung mempertahankan kemerdekaan de facto pulau itu, karena Beijing telah meningkatkan tekanan di pulau itu, Taiwan telah bergerak untuk memperkuat hubungan ekonomi dan diplomatik dengan negara-negara sahabat, termasuk Amerika Serikat, negara-negara di Uni Eropa dan Jepang.

Melansir Beijing News, sebelumnya Cina juga melarang nanas Taiwan dan apel lilin pada tahun lalu, setelah diduga buah tersebut membawa hama. Cina semakin berusaha membatasi akses pulau itu ke pasar konsumen yang luas.

Taiwan terkadang mampu mengurangi dampak dari tindakan semacam itu. Masyarakat dengan cepat berkumpul untuk mendukung petani nanas di pulau itu. Restoran berlomba untuk memperkenalkan menu yang menampilkan kreasi kuliner yang berpusat pada nanas, politisi memposting foto diri mereka makan "nanas kebebasan" di media sosial dan departemen pemerintah mendorong pegawai negeri untuk makan lebih banyak nanas.

Negara-negara seperti Jepang turun tangan untuk membantu menutupi kekurangan tersebut dengan meningkatkan impor nanas dari pulau itu. "Berkat dukungan dari orang-orang Taiwan, bisnis kami berkembang lebih dari sebelumnya," kata Hsieh Kun-sung, 61, seorang petani nanas di kota selatan Kaohsiung.

Baca Juga: Selain Nanas, Cina Kembali Larang Ekspor Ikan Kerapu dari Taiwan
Keren, IKM Pengolah Daun Nanas Asal NTB Sukses Tembus Pasar Eropa



Namun bagi petani kerapu Taiwan, keluar dari pasar Cina mungkin tidak semudah itu. Pasalnya, menurut data pemerintah Taiwan, 91 persen ekspor kerapu senilai lebih dari USD 50 juta dikirim ke Cina tahun lalu. 

Ikan yang dikenal dengan dagingnya yang ramping dan lembab, dianggap di Taiwan sebagai makanan laut kelas atas yang biasanya dimakan pada acara-acara khusus, tidak seperti nanas. Namun sejak larangan China, petani mengaku harga satu jenis kerapu telah turun menjadi USD 3,30 per pon dari USD 4.

Video Terkait